www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Upacara Peringatan Hari Bakti TNI Angkatan Udara Ke-72 di Lanud SIM

0 761

Acehasia.com|Aceh Besar – “Bangun prestasi dan karakter kejuangan sejak dini, sehingga kalian berbangga karena prestasi bukan karena pangkat atau harta tetapi karena kecerdasan serta kesucian dengan meresapi roh pengabdian para prajurit udara yang telah berjuang dan gugur di hari yang suci ini,” kata Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Yuyu Sutisna, dalam sambutannya yang dibacakan Danlanud Sultan Iskandar Muda Kolonel Pnb Hendro Arief H. Hal tersebut disampaikan pada upacara peringatan Hari Bakti TNI Angkatan Udara Ke-72 Tahun 2019 di Lapangan Lanud Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar. Senin (29/7/19).


Sejarah Hari Bakti juga merupakan jawaban paling fundamental dan rasional ketika bangsa Indonesia bertanya mengapa negara harus bersusah payah untuk membangun kejayaan TNI Angkatan Udara (AU). Tepat 72 tahun lalu dua peristiwa penting terjadi, yaitu ketika tiga pesawat TNI AU mengudara dari landasan pacu Lanud Maguwo dan menyerang garis pertahanan Belanda di tiga kota, yaitu Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.

Ketiga pesawat tersebut diawaki oleh kadet penerbang Mulyono dengan juru tembak Dulrachman, kadet penerbang Sutardjo Sigit dengan juru tembak Sutardjo, dan kadet penerbang Suharnoko Harbani dengan juru tembak Kaput.


“Serangan ini menjadi monumental karena menjadi operasi serangan udara pertama dalam sejarah TNI Angkatan Udara sebagai bukti jiwa patriotisme, cinta tanah air dan sikap anti kolonialisme dari seluruh personel Angkatan Udara atas Agresi Militer Belanda Pertama,” ujarnya.


Namun tidak lama berselang, Belanda melancarkan serangan balasan dengan mengirim dua pesawat P-40 Kitty Hawk dan menembak jatuh pesawat Dakota VT-CLA yang sedang membawa bantuan kemanusiaan dari Palang Merah Malaya menyebabkan delapan orang gugur, termasuk tiga putra terbaik Angkatan Udara, yaitu Komodor Udara Prof. Dr.

Abdulrahman Saleh, Komodor Udara Agustinus Adisutjipto dan Opsir Muda Udara Adi Soemarmo Wiryokusumo. Gugurnya ketiga pahlawan udara tersebut, lanjutnya, mengingatkan bahwa selalu ada risiko dalam pelaksanaan tugas sebagai prajurit udara, tetapi tidak boleh sekalipun, sedetik pun, ada rasa ragu, gentar, apalagi takut.


“Menjadi prajurit udara adalah jalan hidup yang dipilih Tuhan untuk kita yang lahir dan tumbuh besar bersama Negara.” Tegasnya seraya mengingatkan untuk menjadi prajurit yang setia ikhlas membaktikan jiwa dan raga bagi keluhuran bangsa dan negara.


Spirit Hari Bakti TNI AU, katanya, harus dimanifestasikan dalam proses pembangunan postur kekuatan dan kemampuan TNI AU yang profesional dan modern, karena tugas TNI Angkatan Udara tidak semakin ringan dan harus berhadapan dengan kemajuan teknologi di era Revolusi Industri 4.0 yang dipenuhi sistem siber-fisik dan ancaman hibrida yang siap menghancurkan bangsa Indonesia dengan berbagai cara.


Dalam rangka menghadapi situasi ini, lanjutnya, maka pembangunan kualitas SDM harus menjadi prioritas utama. Dengan demikian, maka momen Hari Bakti TNI AU Tahun 2019 sangat tepat untuk membangun komitmen agar mampu mencetak kader-kader prajurit yang berkarakter sama hebatnya dengan para aktor sejarah Hari Bakti TNI AU.


Dalam upacara juga turut hadir Ketua PIA AG Cab. 20/D. I Lanud Sultan Iskandar Muda Ny. Rini Hendro Arief, Kepala Sekolah SMKN Penerbangan Aceh Dra. Dahliati, M.Pd., Ketua Persatuan Putra Putri Angkatan Udara (P3AU) Ibu Emilia, Kapten (Purn) Satiman dan Bapak Parsilan, keluarga besar Lanud Sultan Iskandar Muda serta Kipan C Yonko 469 Paskhas.(Ril/Hz)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More