www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Unicef dan PKBI Aceh Gelar Aceh Youth Dialogue 2

0 885

Acehasia.com | Banda Aceh – Jika pepatah mengatakan kesempatan tidak akan terulang dua kali,  tapi tidak dengan diskusi yang satu ini, Perkumpulan Keluarga Berencana indonesia (PKBI)  yang kerjasama dengan Unicef kembali menggelar diskusi santai  “Aceh Youth Dialogue 2”. Tema yang diusung yaitu Peran anak dan remaja dalam mengakhiri kekerasan terhadap anak dalam rangka memperingati 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan (16 HKATP) , Bangkit dan bicara! Senin, (25/11/2019)

Hujan di siang hari tak menjadi penghalang bagi peserta untuk berhadir di halaman Ivory Coffe, Setui, Banda Aceh. Peserta terdiri dari berbagai kelompok muda yang mewakili organisasi, komunitas, dan LSM yang berkecimpung di dunia anak,  dan perempuan.

Cut Intan Arifah selaku ketua pelaksana menyampaikan kegiatan yang dimulai Pukul 12.30 sampai 17.50 di Ivory Caffee and Culinary Setui ini terselenggara atas kerjasama dengan UNICEF Perwakilan Aceh yang saat ini sedang berfokus pada program Malnutrisi (Stunting) ibu dan anak yang menjadi isu nasional saat ini.

“Aceh merupakan salah satu provinsi yang tinggi angka kekerasannya terhadap perempuan dan anak, tema ini kami angkat karena anak, remaja, dan perempuan mengalami berbagai macam bentuk kekerasan seksual, fisik, mental/psikis, dan ekonomi. Berdasarkan data dari P2TP2A Aceh, jenis kekerasan yang paling banyak dialami adalah kasus kekerasan seksual anak dengan 274 kasus di tahun 2018. Aceh menjadi daerah tertinggi ke-3 di Sumatera tahun 2018, dan kedua tertinggi di tahun 2019 sebanyak 82 kasus (sampai dengan bulan April),” Imbuhnya.

Direktur PKBI Aceh, Eva Khovivah menyampaikan, PKBI selain selama ini berkecimpung di dunia kesehatan anak dan perempuan juga konsen terhadap remaja dan mengapresiasi UNICEF atas dukungan penuh pada kegiatan ini.

“Semoga melalui kegiatan ini anak dan remaja Aceh dapat meningkat kapasitas keilmuannya terkait kekerasan terhadap perempuan dan anak, karena di antara peserta yang hadir nanti pasti ada yang pernah melihat, mendengar, bahkan pernah mengalami, sehingga tahu tindakan apa yang dilakukan untuk mencegah dan menanggulangi jika terjadi di sekitar lingkungan mereka,” harapnya.

Tak hanya membahas isu tentang kekerasan saja, juga membahasa cara menghentikan kekerasan yang diisi oleh beberapa pemateri, diantaranya T. Irwan Djohan Anggota Legislatif DPR Aceh, Ridha Dinas dari Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh, Ruwaida seorang Aktivis perempuan American Friends Service Committee, Bayu Satria salah satu Aktivis Remaja Forum Anak Tanah Rencong, dan Dhiana Anggraeni dari UNICEF.

Tujuan diadakannya diskusi ini untuk mencegah dan mengatasi kekerasan terhadap anak dan perempuan yang setiap tahunnya semakin meningkat.

“Di Indonesia banyak sekali kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan terkhususnya di Aceh. Menurut fakta diantara dua dari tiga anak laki-laki dan perempuan mengalami kekerasan sekali dalam seumur hidupnya,”ungkap Dhiana salah satu pelindung anak dari Unicef.

Aceh tidak seharusnya memiliki tingkat kekerasan yang tinggi, apalagi terkenal dengan kota syari’at Islam yang kental. Sudah seharusnya para remaja Aceh menjadi pelapor dan pelopor kekerasan yang menitikberatkan pada anak dan perempuan.

Dhiana juga menawarkan beberapa kisi-kisi untuk memutuskan rantai kekerasan tersebut dengan cara CLBK yaitu Cari Tahu,  Lakukan,  Bagikan, Kebijakan.

“Mencari tahu segala bentuk kekerasan disekitar apakah benar atau salah,  setelah mencari tahu lakukanlah pengaduan,  bagikan informasi mengenai kekerasan, dan melakukan kebijakan, tanpa ada kebijakan segala pengaduan tidak akan berjalan dan di proses. Dengan adanya kisi-kisi tersebut diharapkan kepada seluruh remaja Aceh bisa memutuskan rantai kekekrasan tersebut,”harap Dhiana. (Adra/Hz)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More