www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Syakir, Dai Muda Dari Koetaradja

0 1,004

Acehasia.com | Banda Aceh – Kebanyakan anak bercita-cita menjadi seorang guru, dokter maupun tentara. Namun demikian tidak dengan bocah cilik yang begitu tertarik menjadi seorang da’i. Hari itu dengan mengenakan sorban bendera Negara Palestina dan jubbah putih juga kepala yang tutupi peci serupa. Senyumnya penuh bahagia saat memagang hadiah juara perlombaan.

Muhammad Syakir Mubarak (9), memenangi beberapa ajang perlombaan, baru-baru ini pula ia menjadi pemenang perlombaan pidato yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri Syariah. Keberhasilan tersebut tentu diharapkan oleh setiap orang namun hasil yang dicapai Syakir juga tidak mudah.

Bakat terpendam ini bermula sejak ia berumur tiga tahun, saat merebut microfont milik kakak laki-lakinya ketika sedang mengikuti perlombaan serupa. Banyaknya perlombaan yang diikuti sang kakak membuat Syakir begitu termotivasi agar mengikuti hal yang sama sehingga ia begitu terkesan akan keberhasilan abangnya.

Alhasil bocah kecil itu teus melatih diri agar keinginananya tercapai, Pada penghujung tahun ini sosok cerdas itu dipinang Aceh Besar untuk mewakili perlombaan, tidak hanya Aceh Besar, SDIT juga turut merebutnya

 “Yang membuat saya sangat senang dihari yang sama ini karna ia menang walau dalam kondisi sakit, ia begitu semangat” jelas ibu syakir

“umi boleh diundur gak?, umi adek udah sembuh, jadi adek ikut aja” lanjutnya sembari mengingat ungkapan anaknya.

Metode Yang Diterapkan Untuk Belajar Menjadi Seorang Da’i.

Syakir tidak disekolahkan khusus oleh ibu untuk belajar menjadi seorang da’I, hanya saja bekal tersebut didapatkan dari sekolah mengaji, selebihnya Syakir meminta merekam pidato yang sudah dibaca pada ibunya.

Ia juga suka melihat kaset berisi ceramah yang dibeli sang ayah. Saat libur sekolah Syakir sering meminta untuk bermain ke alam seperti Hutan Kota dan di sana ia akan belajar pidato. Metode lain yang digunakan adalah Syakir selalu diarahkan untuk menyetor ayat suci Al-Qur’an.

“Jadi ga ada waktu khusus yang direrapkan untuk syakir karna syakir suka menentukan waktu latihan sendiri dan umi suka mengikuti keinginannya saja, yang penting dia semangat” ungkap Asmaunizar, selaku ibu Syakir.

Syakir sebelum tidur malam sering mengharapkan ibunya membaca syair atau dongeng.

“Saya selalu mengamanahkan agar dia selalu berusaha untuk menang, tapi umi selalu suport apabila nantinya ia kalah, umi selalu mengingatkannya itu semua kehendak Allah, Kalau banyak yang menyuru kepada kebaikan yasudah, Tapi kalau tidak menang berarti usaha orang luar biasa dan dia pantas mendaptkannya, Dan untuk adek berarti Allah siapkan yang lain memang saya bilang berusaha dengan baik apa yang dilakukan,” ucap ibunya.

Kini Syakir banyak dibimbing oleh kakaknya,  Muhammad Safir Mubarrak. Keduanya begitu mengidolakan sosok Farid Wajdi, hal ini berawal ketika mereka membuka handphone ibunya dan ada yang mengirimkan video sang mantan rektor sedang berpidato.

“Umi tadi ada rektor, guru Umi” kata Asmaunizar saat menirukan gaya bicara putranya.

Selain mengidolakan sosok Farid, mereka juga sangat menyukai Syekh Ali Jaber dan termotivasi ketika menghafal ayat suci. sosok penceramah fenomenal Abdul somad juga begitu dikagumi.

“Dia pernah foto sama Abdul Somad dan mintak doa semoga bisa ceramah seperti Abdul Somad,”curhat ibu Syakir.

Orang tua layaknya cahaya lilin yang selalu setia menerangi setiap sudut kehidupan. Mereka juga semangat buah hati untuk tetap kuat untuk terus melangkah maju, benar kata pepatah, seorang anak yang cerdas terlahir dari ibu yang cerdas pula, ibu menjadi madrasah pertama bagi anaknya untuk terus maju dalam segala hal yang disukainya. (Helena/Hz)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More