www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Semangat Yahwa Pian Diusia Senja

0 878

M.Jaman yang akrab di sapa dengan Yahwa Pian bekerja setiap hari sebagai penjaga mesjid di desa Kemukiman Lam Ujong, Aceh Besar.

Acehasia.com|Banda Aceh-Wajahnya selalu terlihat ceria, tiada pernah terlihat gelisah. Ramah senyumnya dan budi pekertinya yang baik selalu di perlihatkan untuk orang lain. Tak pernah ia meminta sesuatu kebutuhan kepada orang lain. Dengan gerakan hatinya yang tabah dan sabar setiap hari ia bekerja sebagai pengurus mesjid di kampung halamannya. Dia selalu menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh, biarpun kala hari itu dihiasi dengan terik matahari maupun rintihan hujan. Meskipun begitu, tiada tersirat kelunturan semangatnya untuk terus berjuang demi mendapatkan rejeki halal dari sang maha pencipta.

Ya inilah sekilas sosok M. Jaman yang  sehari-hari bekerja sebagai pengurus harian mesjid di kemukiman Lam Ujong, Aceh Besar. Kakek berumur 68 tahun ini mempunyai 2 orang anak dan 4 orang cucu. Adapun istri Yahwa Pian sudah meninggal ketika itu beliau berumur 39 tahun.

Yahwa Pian begitulah orang-orang menyebutnya, ia berasal dari Gampong Rumpet,Aceh Besar. Profesinya sehari-hari hanya pengurus mesjid yang upahnya di bayar pas-pasan mencukupi kebutuhan hidupnya. Dari pengakuan Yahwa Pian, per bulan ia hanya mendapatkan infak sekitar Rp.500 ribu. Walau hasil keringatnya membuat kesedihan baginya, tetapi beliau tetap bersyukur terhadap karunia rejeki yang semestinya ia dapatkan. 

Hidup yang sederhana memberikan ujian baginya sendiri dengan langkah lebih baik mencari kebutuhan hidupnya. Tidak ada kata berhenti baginya dalam perjuangan karir kerjanya.

Makanan dan pakaian untuk hidupnya sehari-hari tak pernah membuatnya cemas. Dikarenakan segala kebutuhan tersebut sepenuhnya ditanggung oleh anak laki-lakinya. Rasa rendah hati dari orang dermawan pun turut memperhatikan belah kasihan kepadanya dengan menyediakan kebutuhan hidupnya. Meski hanya  secangkir kopi dan nasi gurih setiap pagi beliau selalu bersyukur atas apa yang diterimanya.

Kakek berkulit sawo matang ini  setiap hari berangkat ke mesjid dengan menggunakan motor hadiah dari anak laki-lakinya. Perjalanan 1200 meter ini membutuhkan waktu 7 menit untuk sampai di lokasi kerjanya. Walau di halangi kemacetan dan taburan debu di jalanan beliau tetap sabar hingga tiba di mesjid. Dari pukul 09:00 wib Yahwa Pian menjalankan tugasnya hingga masuk waktu dzuhur.

Pekerjaan mulia tersebut tidak pernah membuat beliau gelisah meski kerabat dan orang lain memandangya dengan sebelah mata.

“ Untuk apa kita punya kemewahan dunia berupa harta yang melimpah, akan tetapi kita melupakan kepada yang memberinya. Itulah orang jaman sekarang yang tidak cukup-cukup dalam mencari harta dunia,” tegasnya.

Gairah semangat kakek dari 2 orang anak ini bisa menghantarkan kesuksesan bagi dirinya dan juga anaknya sendiri.  Dengan kegigihan kerjanya, anak lelakinya bisa menjadi pengusaha rumah makan di kota Banda Aceh.

Dengan usianya yang lanjut beliau tidak menyerah dalam memperbaiki ekonominya,bahkan ketika beranjak dewasa beliau sudah menjadi pedagang di pasar Aceh. Beranjak tahun ke tahun beliaupun menajadi sebagai pengembala hingga menjadi pengurus mesjid .

Ketika sore Yahwa Pian memiliki waktu senggangnya selesai pulang dari mesjid biasanya dirinya pergi ke kebun dan mengembala kambing peliharaannya. Setiap sebulan sekali biasanya tepatnya di hari sabtu Yahwa Pian mengambil inisiatif untuk menjual kambingya di pasar hewan. Dari hasil jual Rp.2 juta hingga Rp.3 juta 500 ribu rupiah yang ia dapatkan bisa memenuhi kecukupan kebutuhan hidupnya selama 1 bulan.

Tanpa dorongan dari siapa pun beliau sangat giat melangkahi kedua kakinya untuk mencari nafkah demi mengcukupi kebutuhan hidupnya yang tidak mau meminta kepada orang lain.

Yahwa Pian juga berjasa untuk pemuda di sekitar tempat tinggalnya dengan banyak nasehat dalam ilmu yang bermanfaat beliau berikan untuk mereka. Ke dalam sejarah Aceh pun beliau banyak berbagi untuk pengetahuan anak muda di kampungnya. Sosok yang bisa dikatakan sejarawan Aceh ini banyak juga menasehati dan memotivasi masyarakat disekitarnya maupun di tempat lain.

 “Anak muda yang meneruskan kemajuan bangsa jangan lagi pada kami yang tua,” jelasnya dengan seutas senyum diwajahnya.

Selagi jiwanya sehat dan kuat Yahwa Pian akan terus bekerja dan menuaikan kebaikan lainnya untuk berupaya memenuhi kebutuhan ekonominya. Meski anak lelakinya dan orang dermawan tetap berada di sampingnya, beliau tetap konsentrasi dalam kerjanya sendiri tanpa menganggu ketenangan orang lain.(Hz)

Laporan: Fauzan Uka

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More