www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Selimut “Mabok” Mehambo Serambi Mekkah

0 857

Acehasia.com | Banda Aceh- Afghanistan, negara yang gersang, tandus, dengan gurun pasir terhampar luas. Kondisi masyarakat di negara para mullah ini relatif miskin dan hanya mengantungkan hidup pada sektor pertanian dan peternakan. 

Karena faktor kemiskinan membuat sebagian rakyat Afghanistan tiada pilihan lain untuk mengasapi kebutuhan hidupnya, maka sebagian masyarakat memilih untuk membudidayakan bunga opium. Bunga keberuntungan yang  berasal dari negeri Hamid Karzai menjadi bahan baku 90% heroin di seluruh dunia.

Jejak tanaman opium meningkat drastis saat Uni Soviet menginvasi negara tersebut, sekitaran 1979-1980 . Kondisi negara yang tidak stabil dimanfaatkan oleh Taliban untuk mengenjot produksi tanaman opium  sebagai cara untuk menghasilkan pundi-pundi dollar guna membeli alusista persenjataan guna  melawan Uni Soviet.  

Afghanistan dengan Aceh memang jauh berbeda. Akan tetapi ada persamaan, yaitu terkait peredaran narkoba yang telah menjadi virus di dalam kehidupan masyarakat. Virus ini telah menyentuk kalangan muda bahkan anak-anak. Penyebaran narkoba di Aceh kian hari makin kronis. Buktinya, pabrlik pembuatan narkoba di temukan di Aceh Utara dan pelakunya masih muda belia.

Menurut Badan Narkotika Nasional Provinsi Aceh (BNNP) Aceh mengungkapkan bahwa masih ada pabrik ekstasi di lokasi lainya atau di kabupaten lainnya di Aceh (Serambi Indonesia, 20 Juli 2019).

Maraknya peredaran narkoba, membuat kita seharusnya khawatir dengan kondisi seperti ini. Generasi dengan kehidupan narkobais menjadikan negara ini akan semakin kronis dan terpuruk.

Ancaman terbesar Aceh sekarang adalah pengaruh narkoba. Generasi Aceh yang terjebak di lingkaran peredaran narkoba tak mampu diselamatkan. Bahkan diacuhkan oleh pemimpin Aceh sebagian kaum agamawan yang masih belum peduli dengan peredaran narkoba yang mulai diperdagangkan dari gampong- ke gampong. Mereka asyik dan terlena dengan masalah aturan kontroversial dan mempolitisir syariat islam untuk kepentingan ketenaran.

Resolusi Bijak

Menyikapi banyak kasus narkotika di Aceh, penulis ingin menyarankan sedikit  kebijakan yang cerdas dan  humanis. Solusi penanggulangan “ maop narkoba”   adalah mensinergikan hubungan antara Pemerintah, Ulama dan Masyarakat. Semua pihak harus terlibat langsung dalam masalah penyalahgunaan narkotika.

Menurut hemat penulis langkah lainya  harus  ditempuh oleh Pemerintah adalah membuat   program pelatihan wirausaha bagi generasi muda  Aceh, pelatihan  digelar untuk membekali para pemuda Aceh untuk pengembangan  memulai usaha. Banyak sekali usaha yang bisa digali potensinya di Tanoh Rencong, seperti, usaha pengalengan ikan dengan memanfaatkan hasil kekayaan laut. Penanaman padi secara modern dan higenis, serta usaha pengembangan peternakan di Aceh yang sangat potensial.

Pengembangan lain  pada sektor pariwisata dengan memanfaatkan potensi budaya sebagai alam sebagai daya tarik bagi  para wisatawan lokal dan mancanegara. Para generasi muda perlu dilatih untuk siap menjadi duta wisata guna mempromosikan pariwisata Aceh kepada masyarakat  lokal, nasional, maupun internasional.  

Selain itu para duta wisata Aceh juga harus dilatih pembekalan bahasa asing yang mumpuni, seperti, bahasa Arab dan Inggris, Prancis sebagai sarana promosi wisata Aceh. Dan yang paling penting adalah melatih para pemuda Aceh untuk  membuat souvenir, sebagaimana kita ketahui bahwa Aceh sangat kaya akan kerajinan tradisional, seperti, tas bordir Aceh, dompet, baju bordir khas Aceh, mukenal, jilbab dan lain sebagainya. Pelatihan ini harus dilakukan secara sustainable untuk menambah daya saing produk dan perluasan jaringan pemasaran baik, lokal, nasional maupun internasional .

Dengan adanya kegiatan tersebut, kita berharap generasi muda Aceh tidak lagi terjerumus ke lembah jahannam menjadi  kurir narkoba. Karena jikalau para pemudanya sejahtera maka secara otomatif  jumlah pemuda untuk tidak terlibat kedalam nafsu birahi syaitan “ maop narkoba”  dapat dikurangi secara perlahan-lahan. Wassalam.

Ditulis Oleh Tibrani, Kabid Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Himpunan Mahasiswa Islam  Cabang Kota Banda Aceh.         

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More