www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Sekolah Literasi Jilid II Di Gelar di UIN Ar-Raniry

0 580

Acehasia.com | Banda Aceh– Sekolah Literasi Jilid II menyelenggarakan Kuliah Umum dan Kuliah Literasi di Aula Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Jumat (3/01/2020).

Dalam kesempatan kedua ini, sekolah literasi juga turut menghadirkan senator Aceh yaitu pimpinan sekolah literasi yaitu bapak Fachrul Razi, dan sekaligus pimred RMOL (Republika Media Online), Ruslan Tambak.

Muhammad Ridha.selaku ketua panitia memberikan laporan bahwa kegiatan ini kita adakan untuk memotivasi para penggiat dan kader muda mahasiswa Aceh dalam memutar balikkan keadaan literasi secara menyeluruh baik.

“Program ini akan kita kembangkan bersama ke depan dalam upaya penumpasan malas membaca, menulis dan diskusi yang sekarang kita lakukan dalam pembenahan yang tajam. Maka dengan cerminan kapasitas inilah dapat membantu literasi Aceh,”jelasnya.

Selaku Koordinator pengurus sekolah literasi, Aljawahir, mengungkapkan faktanya sejauh ini dunia sudah maju, sedangkan anak Aceh masih malas membaca dan menulis.

“Jika kita lihat dari peringkat dunia Indonesia masuk urutan ke 62 ketinggalan literasi dunia. Maka dengan dampak yang positif sekolah literasi dengan dukungan kita semua dapat membawa berkah dan cerdas di masa yang kana datang untuk anak Aceh khusunya,”sebutnya.

Alja juga berterima kasih kepada pimpinan sekolah literasi, Fachrul Razi dan Ruslan yang telah hadir dan memiliki niat sangat baik untuk memperbaiki sistem literasi anak Aceh jaman sekarang.

Ia menjelaskan perihal Fachrul Razi bersama timnya yang sudah berhasil melakukan gebrakan besar dari tahun 2015 hingga sekarang itu mencapai 7000 orang penggiat berhasil digabungkan dalam tekad dan niat yang satu untuk kebaikan.

“Sejauh ini sudah ada 1000 kader yang menulis pada bimbingan sekolah literasi serta kita ada juga wadah media untuk di publikasi berita hasil karya siswa sekolah literasi dan Alumni,”ungkap Alja.

Wadah ini, tambah Alja, akan digemparkan untuk kemajuan bangsa Aceh sebagaimana jarak dengan membaca serta menulis tidak akan membuat kita hal yang janggal lagi.

“Jak Beut bek ta peungeut gob dan jak sikula bek di penget le gob” ( dengan mengaji kita tidak membohongi orang dan dengan sekolah kita tidak akan dibohongi oleh orang),”tutur Alja kepada peserta.

Bergegas untuk memajukan literasi Aceh menjadikan program sangat penting juga untuk kemajuan bangsa, karena 5,6 juta jiwa di Indonesia buta huruf. Jika melirik Aceh belum begitu berubah dikarenakan juga minat pembacanya 0,01%.

“Dari sekian ribu orang yang suka membaca hanya satu orang saja lainnya sibuk dengan gedget maupun game online. Daya buruk ini harus kita optimalkan dengan cepat supaya posisi global angka yang jauh tidak menurun lagi. Minat baca buku maupun artikel atau berita itu sangat rendah, yang banyak berlomba baca itu kalau bukan buku bank ya status intagram dan whatshap”, jelas senator Aceh, Fachrul Razi.

Celakanya akibat tidak diperhatikan dengan penuh oleh pemerintah literasi Aceh sekarang mengalami kritis dan tidak jelas. Anggaran 8,6 Trilliun Otonomi Khusus masih ada juga sekarang rakyat dan masyarakat Aceh yang mengalami buta huruf secara massal.

Fachrul Razi juga memberikan kejelasan program ke depan yang diusung dalam bimbingan sekolah literasi yaitu ada literasi bahasa, literasi digital, literasi digital dan media, literasi jurnalistik, literasi edukasi, literasi budaya dan literasi kebangsaan.

“Dulu saya menulis kalau tidak di sandra sama polisi tidak puas apa yang saya tulis. Maka dengan itu kita sama-sama belajar untuk bisa menulis dan diskusi serta bisa mengamalkan dan mengajarkan untuk generasi Aceh ke depan,” tuturnya.

DPD RI asal Aceh juga berharap kepada calon dan alumni sekolah literasi untuk setia belajar dan memiliki sikap yang optimis dalam bekerja sama untuk mewujudkan literasi Aceh kepada dampak lebih positif dan aktif kembali.

Sementara itu Pimred RMOL.id Ruslan Tambak juga menyalurkan pengalamannya kepada anak Aceh untuk senang bercita-cita dan mimpi besar. Melalui pengalaman sewaktu ia sekolah dirinya suka membaca koran dan buku. Dari situlah keberhasilan sekarang bisa menjadi kepala media ternama di Indnesia.

“Dulu saya selesai S2 di Jakarta di ajukan oleh kepala prodi untuk menjadikan dosen, tapi saya menolak dan saya lebih menyukai jadi wartawan. Niat dan kerja yang baik akan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Jurnalis harus bersikap kasih sayang dan menulis berita yang fakta akurat,” tutupnya.

Acara ini turut di hadiri oleh para jurnalis muda Banda Aceh yang mengembangkan bakatnya di sekolah literasi serta beberapa aktivis kampus dan juga mahasiswa dan alumni sekolah literasi. (Fauzan/Hz)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More