www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

RTA Kecam Praktek Asusila Yang Terjadi Di Pesantren

0 870

Acehasia.com|Banda Aceh – Rabithah Taliban Aceh (RTA)  Mengecam prilaku oknum institusi pendidikan umum yang dalamnya juga dipadukan dengan Pendidikan Agama (Pesantren) yang melakukan praktek asusila dalam lingkungan salah satu lembaga pendidikan di Lhoksemawe. RTA juga meminta agar pelaku yang telah mencoreng lembaga pendidikan tersebut dihukum sesuai undang-undang yang berlaku, tanpa pandang bulu.  Hal tersebut diutarakan oleh Sekjen Rabithah Taliban Aceh,  Tgk. Irfan Siddiq kepada awak media pada Sabtu (13/07/2019) di Banda Aceh. 

“Perilaku oknum itu tidak bisa ditolerir dan telah merusak citra pendidikan keislaman Aceh serta menyebabkan trauma bagi para anak didik untuk belajar,” tegas Tgk. Irfan.

Rabithat Taliban Aceh juga meminta agar pelaku dijerat dengan UU Perlindungan Anak. Kasus Pelecehan Seksual untuk anak merupakan kategori pelanggaran berat dalam hukum, baik hukum agama maupun hukum negara Indonesia, mengingat Aceh belum ada Qanun Terkait Pelecehan Seksual. 

” Saya kira Pelaku harus dijerat dengan UU Perlindungan Anak, mengingat korban adalah anak-anak. Jika melihat efek yang ditimbulkan, maka Aparat Kepolisian jangan menggunakan Qanun Jinayat pada pelaku. Maka, DPRA Perlu Menggodok Qanun Pelecehan Seksual,” ungkapnya.  

Menurutnya, kasus pelecehan seksual dalam lingkungan pendidikan agama khususnya Dayah bukanlah pertama kali terjadi. Jika tidak diambil tindakan tegas maka ini menjadi presenden buruk untuk pendidikan Dayah di Aceh.  

“Dalam data kami, ini bukan kasus pertama. Ini kasus ke empat terjadi sejak medio 2017-2019 yang melibatkan oknum dayah. Maka tidak ada alasan untuk tidak ditindak tegas,” tutur Tgk. Irfan. 

Sekjen RTA Terpilih ini juga menambahkan, Rabithah Taliban Aceh siap mendampingi para santri yang menjadi korban serta akan melakukan pendampingan intensif guna memulihkan psikologis korban. 

Menurutnya, kasus ini harus menjadi pelajaran bagi siapapun. Karena kemungkaran terjadi tidak mengenal tempat, waktu dan pelakunya. Maka, RTA siap menerima laporan khususnya para santri atau orangtua santri jika tidak berani melaporkan kepada pihak berwajib. 

“Ini harus menjadi pelajaran dan cambuk bagi kita. Jangan karena dilakukan oleh oknum tertentu bisa merusak citra lembaga pendidikan secara keseluruhan. RTA siap menerima laporan terkait kasus ini, khususnya bagi korban yang tidak berani melapor,” tutup Tgk. Irfan. (Ril/Hz)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More