www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Peran Islam dalam mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia

0 1,130

Acehasia.com | Banda Aceh – Bermula pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, Islam hadir di tengah masyarakat Indonesia membentuk organisasi bersifat sosial kemasyarakatan, yang bertujuan membantu  fakir miskin, baik dalam segi material maupun spiritual, mendidik dan mempersiapkan generasi muda Islam untuk mampu berperan di masa depan dan menolong ummat yang lemah dalam sektor ekonomi.

Pada tahun 1901 berdirilah organisasi Jamiat Khoir, lembaga swasta yang bergerak dalam bidang pendidikan dan berperan penting dalam sejarah perjuangan Indonesia. Berpusat di jalan KH Mas Mansyur 17, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Adapun berdirinya Boedi Oetomo adalah sebagai kebijakan balance of power dari pemerintah kolonial Belanda untuk mengimbangi Gerakan kebangkitan Pendidikan Islam yang dipelopori Jamiat Khoir, 17 Juli 1905, diJakarta oleh kelompok sayyid (keturunan Rasulullah) atau bangsawan Arab. Mereka mendirikan sekolah di Tanah abang dan krukut Batavia.

Dengan adanya sekolah ini, Jamiat khoir mendatangkan tenaga pengajar dari Al-Azhar Kairo, Mesir. Enam tahun kemudian Jamiat Khoir berhasil mendatangkan Syaikh Ahmad Syurkati seorang reformis dari Sudan.

Aktivitas pendidikan dengan mendatangkan guru-guru dari Timur Tengah merupakan ancaman bagi kelestarian penjajah Belanda. Pada tahun 1908 berdirilah Boedi Oetomo sebagai tandingan dari Jamiat Khoir.

Menurut P.P.A. Achmad Djajaningrat untuk penamaan organisasi tandingan harus sama pula dengan Jamiat Khoir maka dipilihlah nama BoediUtomo, nama ini sebagai pengalihan bahasa dari bahasa Arab ke Bahasa Jawa. Jamiat khoir dalam Bahasa Indonesia berarti “Jemaah yang baik” kemudian jika di terjemahkan ke Bahasa Jawa menjadi “Boedi Oetomo”.

Dibidang ekonomi, Hadji Samanhoedi berjuang dengan mendirikan Sjarikat Dagang Islam di Surakarta, 16 Oktober 1905 dengan tujuan penguasaan pasar. Kebangkitan Sjarikat Dagang Islam merupakan lambang awal dari suatu keberhasilan Gerakan pembaruan sistem organisasi Islam, pemerintah kolonial Belanda menilai berdirinya Sjarikat Dagang Islam (SDI) sebagai bahaya besar bagi eksistensi dan perkembangan imperalis Belanda, demikian pula untuk menandingi Sjarikat Dagang Islam.

Pada 16 Oktober 1905, pemerintah colonial Belanda mendirikan organisasi dengan menggunakan nama yang hampir sama, yaitu Sjarikat Dagang Islamiyah, 1909 M, di Bogor. Setahun setelah itu pada 1906, di Surakarta, berdiri lagi Organisasi Sjarikat Islam yang sebenarnya didirikan atas prakarsa Hadji Samanhoedi, tetapi lebih dikenal saat Sjarikat Islam Surabaya dibawah pimpinan Hadji Oemar Said Cjokroaminoto.

Sebagian sejarawan muslim menuliskan bahwa organisasi tersebut didirikan pada saat mendapat badan hukum pada Senin, 10 September 1912. Namun, bila dibaca tulisan anggaran dasar Sjarikat Islam disebutkan bahwa Sjarikat Islam telah berdiri di Surakarta sebelum di Surabaya. Merupakan suatu kewajaran sebagai organisasi yang didirikan dibawah kondisi penindasan Belanda pada 1906 tidak mungkin terbuka, melainkan bersifat rahasia.  Setelah mendapatkan badan hukum dibawah pimpinan Hadji Oemar Said Cjokroaminoto pada 10 September 1912 Sjarikat Islam menjadi terbuka gerakannya.

Tidak lama kemudian menyusul di Jogyakarta, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Persjarikatan Moehammadijah, pada Senin, 18 November 1912 yang bergerak dibidang sosial pendidikan. Padahal K.H. Ahmad Dahlan berasal dari keluarga bangsawan Jawa. Namun tidak tertarik pada gerakan Jawanisme atau kedjawen dari Boedi Oetomo. Beliau lebih memberikan perhatian besar kepada anak yatim piatu dan fakir miskin, lebih menekankan pendidikan untuk seluruh strata sosial anak dari keluarga muslim.  Beliau membuka kesempatan pendidikan nasional dengan tidak mengutamakan salah satu suku Jawa dan anak bangsawan saja seperti yang dilakukan Boedi Oetomo.

Setelah 14 tahun kemudian setelah Persjarikatan Moehammadijah didirikan lahirlah  Nahdlatoel Oelama (Kebangkitan Oelama) pada Ahad, 31 Januari 1926 di Surabaya yang di pimpin oleh Rais Akbar Choedratoes Sjech K.H. Hasjim Asj’ari.  Nama Nahdlatoel Oelama merupakan kelanjutan dari nama gerakan dan sekolah  yang pernah didirikan Nadlatoel Wathan (Kebangkitan Tanah Air, 1916) di Surabaya yang di prakarsai oleh K.H. Wahab Chasboellah dan K.H Mas Mansyur.

Nahdlatoel Oelama ingin menegakkan Syariah Islam, kebangkitan Nahdlatoel Oelama merupakan jawaban terhadap politik Kristenisasi penjajah pemerintah Kolonial Belanda yang menegakkan hukum barat. Sebelum lahirnya Nahdlatoel Oelama, kalangan Ulama di Surabaya telah membangkitkan jiwa patroitisme dikalangan generasi muda dengan mendirikan organisasi- organisasi bernama Taswirul Afkar (ekspresi pemikiran) pada 1914, Nahdlatoel Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada 1916, dan Nahdlatoel Toejjar (kebangkitan Niaga) pada 1920. Sejalan dengan perjuangan Persjarikatan Moehammadijah yang mendirikan pramukanya dengan nama Hizboel Wathan (pengawal Tanah Air).

Selain itu, telah berdiri beberapa organisasi yang benar-benar berakar di Pulau Jawa dan Sumatera, antara lain adalah, Persatoean Islam pimpinan Hadji Mohammad Joenoes dan Hadji Zamzam pada 17 september 1923, di Bandung.  Tarbijah Islamijah (Perti) pada 1928, pimpinan Sjech Soelaiman Ar-Roesli di Minangkabau. Matlaoel Anwar pimpinan K.H. Mohammad Jasin di Menes pada 1915. Hajatoel Qoeloeb pada 1915, yang kemudian berubah menjadi Persjarikatan Oelama pimpinan K.H. Abdoelhalim di Majalengka pada 1917. Al-ittihadiyah pada1935 pimpinan Toean Sjech H. Achmad Dahlan di Sumatra Utara,sebelum itu  berdiri pula Al-washliyah di Sumatra Utara pada 1930.

Perlu diingat, sebelum Boedi Oetomo berdiri, Jamiat Choer lebih dulu memikirkan persatuan Indonesia. Anehnya, tanggal jadi Boedi Oetomo, 20 Mei 1908, diperingati sebagai “Hari Kebangkitan Nasional”. Padahal, hingga kongres Boedi Oetomo di Solo, 1928, menurut Mr. A.K Pringgodigdo dalam Sedjarah Pergerakan Rakjat Indonesia, Boedi Oetomo menolak pelaksanaan cita-cita persatuan Indonesia. Ajaran Kedjawen atau Djawanisme sebagai landasan wawasan Boedi Oetomo sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang dianut mayoritas pribumi.

Melalui medianya Djawi Hisworo, Boedi Oetomo berani menghina Rosulullah. Meskipun dengan media cetaknya Boedi Oetomo menghina Rosulullah, sampai sekarang umat Islam tetap menaati keputusan Kabinet Hatta, 1948 M. Bersedia menghormati 20 mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Setelah kemerdekaan Indonesia terwujud, pada jum’at 17 Agustus 1945 bertepatan dibulan Ramadhan, di ikrarkanlah kemerdekaan Indonesia di jalan pegangsaan timur No. 56 di halaman rumah seorang muslim indonesia keturunan Yaman, Syaekh Faraj bin Martho’ yang mewaqafkan rumahnya untuk kepentingan proklamasi Indonesia. Dengan kemulian perjuangan ummat Islam sejak 1901 termaktublah sebagai penghormatan di pembukaan Undang-undang Dasar 1945 kalimat pengakuan  “Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa” dan termaktub pula dalam UUD 1945 pasal 29 ayat 1, “Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” , kemudian menjadi sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Bung Tomo dalam pidato nya pernah mengatakan “Kalau tidak ada kalimat takbir, saya tidak tau dengan kalimat apa saya harus menggerakkan Putra-putra Bangsa untuk bangkit melawan penjajah”,kalimat itulah yang mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran Islam yang telah memberikan sugesti dan rangsangan kepada para Pejuang kita dahulu untuk bangkit berjuang melawan penjajah.

Terbentuknya suatu negara ternyata dipengaruhi oleh unsur konstitutif dan deklaratif. Unsur konstitutif terbentuknya suatu negara terdiri dari wilayah, rakyat, dan pemerintahan yang berdaulat. Adapun unsur deklaratif meliputi pengakuan dari negara lain. Unsur deklaratif sebenarnya bukanlah unsur yang mutlak harus dipenuhi. Namun pengakuan dari negara lain sangatlah penting agar tidak diasingkan dalam hubungan internasional. Islam kembali berperan penting membantu Indonesia,

Negara Mesir hadir sebagai Negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Mesir secara de facto mengakui kemerdekaan Indonesia pada tanggal 22 Maret 1946. Kemudian pada tanggal 10 Juni 1947, Mesir mengakui kedaulatan negara RI secara De Jure. dengan ditandatanganinya perjanjian persahabatan antara RI diwakili oleh K.H. Agus Salim dan Mesir diwakili oleh Fahmi Nokrasyi Pasha.

Menteri LN Mesir di bawah kabinet Ahmad Kasyabah Pasha mengirim nota resmi ke Belanda yang berisi permintaan dari Mesir agar Belanda  bersedia menghentikan aksinya di Indonesia. Pada 1947 Negara  Suriah dan Lebanon menyusul  Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia, kemudian Negara Yaman menjadi Negara ke-empat yang mengakui kemerdekaan Indonesia  dan menjalin hubungan diplomatik pada 3 Mei 1948.

Penulis : Mhd Hafiz Aulia, penulis merupakan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Abdurrab Pekanbaru

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More