www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Nufus, Sineas Muda Dari Koetaradja

0 1,016

Acehasia.com | Banda Aceh – Banyak orang yang menginginkan sukses di dunia sinematografi dengan hanya menunggu pangkuan harapan dari orang lain. Biar bagaimanapun bakat yang kita miliki haruslah terus diasah dan di kembangkan melalui pergaulan dan rasa kepercayaan diri kita untuk terus belajar dalam rintangan yang sejalan. Semangat, usaha dan doalah yang selalu kita utamakan dalam langkah dan waktu.

Rasa tabah dan syukur yang membangkitkan semangat sosok seorang remaja perempuan Kutaraja dalam eksistensinya berkarir di dunia perfilman.

Takziyatun Nufus, remaja berkelahiran Banda Aceh, 4 Mei 1995  merupakan  perempuan yang menyukai bidang perfilman sejak ia duduk di bangku SMA.

Tahapan dan pengalaman ia lalui dengan penuh semangat dan harapannya untuk menimba ilmu perfilman. Memiliki latar belakang pendidikan sarjana di jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry.

Berbekal rasa nekat dan keinginan yang kuat, ia pun memiliki kesempatan untuk bergabung menjadi talen di salah satu komunitas film fakultas, yaitu Komunitas Film Trieng.

Tak hanya itu, ia juga mulai bergabung dengan beberapa sineas muda di Komunitas Pilem Aneuk Aceh (Kopiah).

Di sini ia sempat membuat beberapa film pendek untuk ajang perlombaan sebagai bidang editor. Meski belum terlalu mahir, setidaknya ia bisa membuktikan bahwa ia memiliki bakat menjadi sineas muda yang berkarir dibidang perfilman.

Meski memiliki tubuh munggil dan memiliki tinggi badan 155cm, ia bisa membuktikan bahwa keterbatasana bukan halangan untuk berkarir dan berkarya.

Ia beberapa kali mengikuti pelatihan pembuatan film di beberapa daerah, seperti Pusat Pengembangan ( Pusbang) Film yang diikuti beberapa bulan lalu di Depok.

Selain itu, wanita kelahiran Banda Aceh ini juga berkesempatan mengikuti kegiatan produksi film fiksi yang diadakan oleh salah satu perusahaan pembuat film, VIU di Sabang. Ini menjadi jalan baginya untuk menggapai apa yang dicita-citakan.

“Bahkan bulan empat dan lima kemarin, saya dan teman mewakili Kopiah  memproduksi film yang didanai oleh ViU. Dalam ajang itu ada 17 kota yang berlomba untuk posisi terbaik salah satunya Aceh juga bisa bermain dengan penuh keunikan.” Ujarnya.

Tak hanya sampai disitu, bergabung bersama dengan salah satu perusahaan pembuat film di Banda Aceh, ia mampu berkarir menjadi apapun dalam produksi sebuah film.

Beberapa Film yang sudah ia produksi dari tahun 2015 film berjudul ’’Telor Mata Sapi” hasil karya dari komunitas film Tring, pada tahun 2018 film “Cahaya Sesudah pelita” karya dari Kopiah, tahun 2019 Nufus bisa memajukan kualitas sineasnya dalam melahirkan empat karya film terbaru, diantaranya film berjudul “Replika Cerita Pulo Rubiah” karya VIU, film “Prasangka” karya dari Aceh Asia, film “Buroeng Tujoh” karya dari Aceh Greget dan fim terakhir dalam tahun ini berjudul “Minor” karya Aceh Dokumenter.

 “Dalam beberapa tahun setelah perkembangan teknologi dan ilmu komunikasi sekarang serba memiliki kemudahan. Biar bagaimanapun kita harus selalu menjalankan aturan dan perilaku yang positif,”jelasnya.

Sedikit paparannya mengenai film “Prasangka”. Dalam film itu Nufus memberikan sedikit jabaran ceritanya yang memiliki pandangan penting kesehatan bagi masyarakat Aceh umumnya yang tidak memperdulikan lingkungan.

“Sebenarnya dalam film prasangka ini, banyak hal kesehatan, sosial, pendidikan dan agama yang bisa kita lirik dengan rasa motivasi untuk diri sendiri dan masyarakat. Edukasi di dalamnya juga menarik tidak menayangkan hal yang tidak layak untuk di tonton dan kita pun memberikan pola pikir masyarakat yang baik dengan sebuah produksi film seperti ini. Sehingga perubahan perilaku baik orang bisa jadi permanen” pungkasnya.

Pada film ini, Nufus sebagai pemegang Clapper. Setiap produksi film pasti ia sering di ajukan menjadi pengurusan Clapper. Sebelum ia mengetahui tentang clapper, ia sering menganggap gampang dengan benda itu. Ketika ia sudah mengetahui dan menyukai namun ternyata Clapper juga satu hal yang harus di kerjakan dengan serius. Selain keseringan di Clapper, Nufus juga menyukai bidang sutradara dan editor.

“Harapannya untuk pemuda Aceh untuk terus istiqomah dalam mengembangkan sebuah skill yang di sukai dalam dunia perfilman. Dengan kokompakan kita bersama nanti film Aceh bisa dikenal di mata dunia serta dalam ide yang kreatif menerbitkan karya berkesan positif,”harapnya. (Fauzan/Hz)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More