www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Kisah Perjuangan Ayah Besarkan Anak Berkebutuhan Khusus Seorang Diri

0 1,874

ACEHMAPS – Kasih sayang seorang ayah kepada anaknya memang tak lekang oleh waktu. Itulah yang dilakukan Dodi Sopian (36). Seorang diri, Dodi berjuang membesarkan Sansan Sania (11), anak semata wayangnya yang berkebutuhan khusus.

Sehari-hari, Dodi tinggal berdua dengan Sansan di sebuah rumah kontrakan di Jalan Jatihandap III RT 05/04 Kelurahan Jatihandap, Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung, Jawa Barat.

Sansan lahir secara prematur dari rahim ibu bernama Nurnianingsih (27) pada 22 April 2006 di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS). Lahir dengan berat badan satu kilogram, membuat Sansan ‘berbeda’ dengan anak-anak lainnya.

“Kondisi anak saya sejak lahir memang sudah seperti itu,” ucap Dodi saat berbincang dengan detikcom di rumah kontrakannya, Sabtu (29/4/2017).

Tak banyak aktivitas yang dapat dilakukan Sansan di rumah kontrakan berukuran 5×3 meter persegi itu. Sansan tak bisa duduk, hanya bisa berbaring sambil mengguling-gulingkan badannya. Sesekali, kepalanya menengadah ke atas dengan mata melotot dan mulut yang terbuka.

Meski sudah berusia 11 tahun, Sansan sampai saat ini masih kesulitan berkomunikasi. Apabila membutuhkan sesuatu, Sansan hanya bisa merengek kepada Dodi yang setia berada di sampingnya.

“Dia sebenarnya mengerti, kalau saya ajak bercanda suka ketawa. Apalagi kalau denger musik suka teriak-teriak, enggak jelas sih suaranya, tapi mungkin dia mau nyanyi,” tutur Dodi.

Selain lahir secara prematur yang menyebabkan Sansan ‘berbeda’ dengan yang lainnya. sejak bayi juga sansan mengidap penyakit infeksi jantung, otak kecil, sesak, dan sering kejang-kejang.

“Tapi kalau sekarang, tinggal kejang-kejangnya saja. Setiap 10 menit kambuh. Tapi kalau kambuh hanya sebentar, dua sampai tiga menit sudah normal lagi,” katanya.

Pasca berpisah dengan istrinya tahun lalu, Dodi memang harus berjuang sendiri membesarkan buah hatinya. Meski demikian, Dodi tak lantas menyerah begitu saja membesarkan anaknya.

“Ibunya bilang tidak sanggup mengurus Sansan. Akhirnya terpaksa saya yang mengurus Sansan. Ibunya juga sudah minta silahkan saja saya yang mengurus,” kata Dodi yang mengaku sudah tidak pernah berkomunikasi lagi dengan istrinya. Ia juga mengaku tidak mengetahui keberadaan ibu dari anaknya tersebut.

Getirnya kehidupan tidak mematahkan semangat Dodi. Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, Dodi dengan sabar mengurus buah hati kesayangannya. Dodi terpaksa meninggalkan pekerjaannya sebagai sekuriti di perumahan Grand City View untuk fokus mengurus anak semata wayangnya.

“Dia enggak bisa ditinggal. Setiap kali saya keluar juga saya enggak tenang anak saya enggak ada yang jaga. Kalaupun bekerja, paling serabutan ikut sama orang itu juga tidak bisa jauh-jauh dari rumah,” katanya.

Meski seorang laki-laki, Dodi sangat telaten mengurus putrinya. Dari mulai mandi hingga menyuapi Sansan dilakukan Dodi setiap hari.

“Tapi saya bersyukur, selama dia dengan saya enggak rewel, enggak pernah nangis. Mungkin dia kasihan lihat bapaknya mengurus sendiri,” katanya.

Dodi tentu ingin anaknya bisa sama seperti orang lain. Minimal bisa mendapatkan pendidikan. Namun lagi-lagi, kata Dodi, faktor ekonomi menjadi kendala bagi Dodi menyekolahkan anaknya di sekolah khusus.

“Dia dulu pernah sekolah, hanya saja karena duduk tidak bisa, jadi berhenti. Apalagi ekonomi saya pas-pasan,” katanya. []

Detik

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More