www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Kilas Balik Yahwa Yan di Masa Konflik dan Pesannya Untuk Wali Nanggroe

0 692

Acehasia.com | Aceh Besar – Muhammad Jaman (70) pria asli Aceh Besar tepatnya di Kampung Rumpet tengah duduk rehat sejenak. Pria tua ini masih sibuk bergelut dengan pekerjaannya meski di masa senjanya. Kerja sebagai seorang pengurus kebersihan mesjid dan sorenya mengembala serta saat malam ia mengaji.

Kakek yang akrab disapa Yahwa Yan ini juga bercerita tentang kehidupannya yang dulu pernah menjadi seorang pedagang rempah dan senang dengan karya Nazam Hikayat Aceh.

Dibanyak kesempatan ia sering membaca syair Aceh itu dan menasehati pemuda maupun anak-anak yang menghampirinya. Baik sejarah dan budaya beliau sampaikan kepada yang bersamanya.

Ternyata, Yahwa Yan juga pernah merasakan pahitnya masa konflik dulu. Kilas balik cerita Yahwa Yan tetang pengalamannya masa itu.

Dirinya pernah di sergap oleh aparat yang beroperasi di Banda Aceh. Yahwa Yan merasa panik saat itu dan turun dengan para rombongan jamaah ngaji Seuramoe dengan menghadapi para aparat yang menodongkan senjata perjalanan pulangnya.

Lalu ia berinisiatif bersama gurunya dengan mendatangi polsek Ulee Kareng untuk meminta surat keterangan bahwa rombongan tersebut bukan GAM melainkan para Jamaah ngaji Seuramoe.

“Dengan surat itulah merasakan bahwa jamaah kami aman dalam perjalanan ngaji ke rumah undangan,”ucap Yahwa Yan.

Tetapi hal itu ternyata tidak menjamin mereka tterbebas dari prasangka para aparat. Mereka masih saja diperiksa dan disangka sebagai anggota GAM.

“Guru saya pun memutusakan ketika masa itu tidak bisa menjalankan ngajinya selama beberapa hari itu. Akan kita lanjuti ngaji ini selama nantinya keadaan sudah mulai normal kembali,”ujar Yahwa.

Beberapa waktu seusai kejadian tododongan tersebut jamaah pengajian rombongan Yahwa Yan beraktivitas seperti biasa setiap malam minggu dan Jumat mengadakan pengajian (Drah) artinya penagjian jamaah dari kampung.

Lagi-lagi para aparat saat proses pengajian mendarat di balai pengajian Yahwa dengan tujuan menanyakan keberadaan GAM.

Cerita empat dayah di Aceh Besara yang sangat berpengaruh yang di pantau oleh aparat ketika itu ialah : Dayah Darul Ulum (Abu Lueng ie), Dayah Ulee titi, Dayah Abu Lam Ateuk, dan terakhir Dayah Ruhul Fata Seulimuem.

Prasangka TNI dan Polisi yang terus mengkaitkan Dayah salah satu tempat para kombatan GAM berada di sana dan mereka juga manaruh tilikan bahwa GAM juga dari para Tgk Dayah.

Yahwa  menceritakan orang yang tak bersalah ditindas dan dipukul oleh aparat itu terkadang orang alim.

Leuh di poh ureung alim awak aparat nyan langsung hana pah le”, (selesai di pukul orang alim aparat itu langsung jadi orang tidak waras),” ungkapnya.

Beberapa hari itu sekelompok aparat ke rumah Yahwa dan tidak lagi berprasangka buruk.

“Saat itu saya sangat senang sekali karena beberapa aparat yang singgah di rumah saya untuk mengikuti pengajian yang saya peruntuksan untuk anak kecil di lingkungan rumah saya,”jelasnya.

Perlahan mereka mengaji bersama dan Yahwa banyak menceritakan beberapa kisah Aceh kepada mereka.

“Aparat itu mengaji bersama saya di malam rutinitas saya kala itu, serta sesudah damai aparat itu kembali menemui saya dan membawakan logistik konsumsi makanan untuk kebutuhan saya sehari-hari,” terangnya.

Mungkin inilah kesan yang mulia karena saat itu Yahwa dengan rasa sabar menyambut tamu dan memuliakan mereka.

Yahwa Yan juga berpesan kepada hari ulang tahun GAM nanti supaya para mantan dan petinggi terus menjaga Aceh dan jangan lagi ada keributan.

Ia berharap dengan adanya silaturahmi itu semoga para pejuang semakin baik dalam membangun Ukhuwah Islamiah serta amanah dalam setiap kerja.

Terkhusus kepada Wali Nanggroe Tgk. Malik Mahmud beliau menyampaikan semoga di hari reuni petinggi GAM nanti bisa di undang para cendekiawan tokoh adat budaya dan sejarah ke pendopo.

Nyoe na undangan tokoh-tokoh tuha Aceh lon meu ba Nazam awai u pendopo meu baca bak pak Wali Nanggroe”, (kalau ada undangan tokoh-tokoh Aceh, saya mau bawa Nazam awal ke Pendopo untuk membaca di hadapan pak Wali Naggroe),” harapnya. (Fauzan/Hz)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More