www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Kilas Balik Sejarah Air Zam-zam

0 977

Acehasia.com | Banda Aceh – Kata Zam-Zam dalam bahasa Arab memiliki arti yang banyak dan berlimpah-limpah. Mengenai air Zam-Zam ialah air yang suci dan banyak kebaikan yang di sebut didalam Islam. Airnya berada dalam sumur di negeri Arab Saudi dekat dengan Makkah, sekitar jaraknya kurang lebih 38 hasta jauh perhalanan.

Tanah kelahiran para Ambia ini memang memiliki keberkahan yang tiada habisnya. Sebagaimana seluruh umat didunia sholat menghadap Ka’bah dan setiap tahunnya di bulan Haji seluruh umat Islam dunia memenuhi rukun Islam yang ke lima untuk menunaikan kewajiban di tanah suci. Air Zam-Zam ini memang menyimpan banyak khasiat. Meski berkali-kali peserta jamaah haji mengambilnya air ini tetap berada dalam keadaan seperti semula. Itulah keberkahan negeri Arab yang melimpah apalagi kita ukur jejak dari benda yang lainnya, misalnya buah kurma dan buah zaitun.

Disebut dengan Zam-Zam, bisa juga diambil dari perbuatan Hajar. Saat Zam-Zam terpencar ke daratan Hajar selekasnya menyatukan untuk membendung kembali air atau di ambil dari galian Malaikat Jibril serta perkataanya, saat ia berkata pada Hajar.

Dalam hal lain, nama Zam-Zam yaitu ‘alam artinya yang berdiri sendiri, juga di ambil dari nama yang muncul ketika pancarannya berbunyi dengan Zamzatul ma’ yaitu dari nada air tersebut.

Awal Mula Munculnya Air Zam-zam

Dalam penjelasan Imam al Bukhari di shahihnya, dari hadits Ibnu ‘Abbas. Pada saat itu Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail di lokasi Ka’bah, di sebuah pohon besar yang ada didekat sumur Zam-Zam. Ketika itu tiada seorangpun di Mekkah selain mereka bertiga.

Sesudah Nabi Ibrahim as. menempatkan kantong kurma dan air di tempat singgahan Hajar, lalu ia pergi dengan tidak menceritakan kemana hendak di tuju.Sehingga membuat perasaan Hajar cemas seketika itu Hajar berkata, wahai Ibrahim kemanakah engaku mau pergi dan meninggalkan kami berdua di padang pasir ini? Berulang kali Hajar melontarkan pertanyaan ini sekektika ia mengikuti jalan Ibrahim. Tersirat dengan satu pertanyaan melalui pikiran baiknya, ia menanyakan apakah ini perintah Allah SWT? Lalu Ibrahim menjawab : “iya,”.

“Kalau demikian, Allah tidak akan menyesangrakan kami disini,”seru Hajar . Dengan jawaban itu membuat Hajar kembali ke tempat ia singgah dengan Ismail. Serta Nabi Ibrahim tetap terus melanjutkan perjalanannya.

Sesampainya di Tsaniyah jalan begitu berbukitan, arah ke Kada’. Nabi Ibrahim menghadap ke Baitullah seraya ia mengangkatkan tangannya ke atas dan berdoa: “Ya tuhan kami, sebenarya aku telah meletakkan sebagian keturunanku sudah kuletakkan di Ka’bah Baitullah mu yang dihormati. Ya tuhan kami, yang sekian itu mereka membangun shalat. Jadikanlah hati beberapa manusia condong kepada mereka, serta berilah rezeki kepada mereka dari buah-buahan, semoga mereka bersyukur”. (Ibrahim 14 : 37)

Ibunda Ismail menyusui anaknya sambil meminum dari kantong air tersebut. Sampai pada akhirnya air itu habis. Serta anaknya kehausan. Siti Hajar khawatir akan Ismail sehingga ia mencari dimana sumber air untuk Ismail yang kehausan.

Pergilah ia ke bukit terdekat, sampai di atas di berdiri dan melihat terkadang ada sumber air di dekat lokasi. Walau demikian, tidak ada juga apaun air yang ia temui.

Dia juga turun menuju bukit Marwah, dia berdiri di atasnya serta melihat mungkin ada orang disana. Nyatanya tidak ada juga orang disana. Dia mengerjakan itu sebanyak tujuh kali secara bolak-balik Shafa Marwah. Dengan hal ini menjadi rukun Haji bagi umat Islam yang disebut Sa’i.

Saat berada di bukit Marwah, Hajar mendengarkan ada nada suara. Sehingga ia berkata kepada dirinya, “Diam” sesudah diperhatikannya nyatanya memanglah ia mendengarkan nada, lantas ia juga berkata : “Aku sudah mendengar, apakah di sana ada pertolongan?”

Dari suara yang ia dengar merupakan hentakkan kaki Ismail ke tanah. Ternyata hentakkan kaki itu berhasil mengeluarkan air yang berlimpah. Siti Hajar pun kemudian berkata, “Zamzam (berkumpullah),” hingga akhirnya air berkumpul dan diberi nama Zam-zam.

Saat itu ia mendadak menyaksikan Malaikat Jibril, yang mengais tanah dengan kakinya (atau mungkin dengan sayapnya, seperti dalam kisah lain), lantas memukulkan kakinya di atasnya. Lalu airnya keluar dari pancaran air.

Hajar juga bergegas mengambil dan menampungya. Dicidukkan air itu  dengan tangannya serta memasukkannya kedalam tempat air. Sesudah diciduk, air malah makin memancar. Dia juga minum air itu serta memberi pada putranya Ismail. Dengan itu Malaikat Jibril berkata padanya, “jangan takut terlantar. Sebenarnya, di sinilah Baitullah akan di bangun oleh anak ini (Ismail) bersama ayahnya Ibarahim. Serta kebenaran Allah tidak akan melantarkan hambanya yang shaleh.”

Beberapa saat kemudia datanglah masyarakat dari kalangan kabilah Jurhum turun di lembah Mekkah. Dengan keadaan burung-burung yang berputar, itulah sebab mereka turun untuk memastikan apa yang terjadi.

Mereka berkata, “Burung-burung ini berputar di pusat adanya mata air. Kami meyakini disini ada lembah air,” dengan hal tersebut mereka mengirim rombongan dan pada kenyataannya memang benar disitu ada air. Inilah sekilas penjelasan sejarah air Zam-Zam yang memebawa kenikmatan bagi sekalian alam untuk umat Islam.

Sumur Zam-Zam di Lestarikan

Sekian lama sudah beribu tahun, konon sumur Zam-Zam ini kemudian tertutup karena tidak ada yang merawatnya. Maka, kakek Nabi Muhammad SAW. Abdul Muthalib bernazar untuk menggali kembali sumur itu apabila ia dikarunia banyak anak dan akan mengurbankan salah satunya. Doanya dikabulkan oleh Allah dan ia mempunya 10 orang anak.

Kemudian, Abdul Muthalib melaksankan nazarnya. Namun, ia bimbang siapa yang akan di qurbankan. Lalu ia mengundi, dengan itu muncul nama Abdullah, ayah Nabi Muhammad SAW. keraguan makin memuncak karena ia sangat menyayangi putra bungsunya ini. Setelah berkali-kali ia mengundi, tetap nama Abdullah yang muncul, lalu ada yang memberikan usulan nama tersebut di ganti dengan Unta.

Setalah berkali-kali juga tetap nama Abdullah yang muncul sehingga unta ditambah sebanyak 100 ekor. Dan pada undian berikutnya muncullah nama unta yang akan di qurbankannya. Dengan hasil laksana nazarnya selesai qurban unta, Abdul Muthalib menggali kembali sumur Zam-Zam. Dengan itu ada juga yang menyebutkan dengan sumur Zam-Zam.

Melalui peritiwa ini Abdul Muthalib awalnya ia mimpi tentang sumur Zam-Zam yang sudah lama terkubur. Hingga bersama anaknya Harits menggali sumur itu kembali.

Bagaimana yang sudah di sejahterakan pada saat ini air Zam-Zam memiliki banyak kelebihan dan keberkahan bagi yang ingin meminumnya. Bahkan rombongan jamaah Haji setiap tahun minum dan membawa pulang air ini ke tempat tinggalnya masing-masing untuk di berikan kepada keluarga dan saudaranya.

Air Zam-Zam tidak akan habis dan tercemar apabila ada yang mengambil hasil keberkahan dari bumi padang pasir tersebut. Maka jika kita menginginkan minum air bergegaslah naik haji jika sudah mampu atau tunggu pulang jamaah haji dari saudara maupun keluarga kita semua.(Fauzan/Hz)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More