www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Keubeu Weng Mak Jroe dan Manisnya Meulisan

0 487

Acehasia.com | Meulaboh – Terik sinar matahari menyengat kulit, dahaga seketika merajalela membuat tenggorokan kering, bisingan mesin penggiling tebu terdengar membuat siapa saja yang kehausan akan memesan untuk segera menyeruput sari tebu yang ditambah es batu.

“Di kampung saya tebu digiling tanpa menggunakan mesin melainkan tenaga kerbau,” seru Aminah mahasiswi asal Pidie, teman penulis yang suka berpetualang dan mencintai sejarah.

Penasaran dengan perangkat jadul asal Pidie, saya sepakat memenuhi undangannya mendatangi perkampungan tersebut.

Bergerak dari Kota Sigli perjalanan ke lokasi  menghabiskan waktu sekitar 25 menit, disepanjang perjalanan akan terlihat gubuk-gubuk gudang produksi garam, pemandangan perkampungan yang masih tampak asri dan hamparan sawah hijau serta irigasi menjadi teman perjalanan.

Perjalan terhenti di pemukiman Kambhuek, Desa Meunasah Kuthang, di sana terdapat tempat penggilingan tebu tradisional menggunakan tenaga kerbau yang disebut masyarakat setempat dengan nama ‘Keubeu Weng’ .

‘Keubeu weng atau meuweng keubeu’ adalah sebutan masyarakat setempat untuk proses memerah sari tebu yang nantinya akan dijadikan sebagai Meulisan.

Meulisan merupakan air tebu yang dimasak lama hingga mengental dan biasanya sering digunakan dalam berbagai makanan seperti Lincah Busu (rujak Aceh) yang sangat terkenal di Pidie.

Pengolahan tebu menjadi Meulisan dilakukan dengan cara sangat tradisional, yaitu dengan mengandalkan seekor kerbau yang berputar menarik layaknya mesin penggiling.

Cerita Mak Jroe Memulai Bisnis Tradisional

Sejak pertama mengikrarkan janji suci, pasangan Abu Bakar (81) dan Umi Khadijah (78) menjadikan pekerjaan ini sebagai mata pencarian utama untuk menghidupi keluarga.

Tampak kulit keriput yang termakan usia penuh semangat dan tak menghambat keduanya untuk terus menggeluti pekerjaan Meu Weng Keubeu.

Saat fajar menyising menjadi petanda bahwa pekerjaan harus segera dimulai, selepas sarapan, keduanya bergegas memanen tebu yang sudah siap untuk diperas esok harinya.

Sementara Umi Khadijah yang kerab disapa Mak Jroe dengan sigap membantu mengangkat tebu-tebu yang sudah dipanen lalu menjemurnya.

Kerbau yang akan menjadi alat pokok dalam proses pemerasan akan dimandikan terlebih dulu, sudah menjadi rutinitas wajib bagi keduanya untuk memandikan kerbau di sungai sebelum melakukan pekerjaan ‘meu weng’.

Hal ini dilakukan untuk menjaga agar hewan yang sudah menemani mereka selama 6 tahun ini melakukan pekerjaannya sesuai arahan, rutinitas memandikan kerbau dilakukan sehari tiga kali.

Setelah dibersihkan kerbau terlebih dahulu diberikan asupan energi. Kemudian kerbau dipakaikan penutup mata dan tali kekang oleh Abu Bakar yang disambungkan ke mesin pemerah tebu. Di sisi lain, Mak Jroe mengumpulkan kembali tebu yang sudah dijemur kemarin.

“Jika sudah dijemur seperti ini tebu sudah siap untuk diperas sarinya,” ucap Mak Jroe sembari menaruh tebunya.

Setelah semuanya selesai, Mak Jroe mulai memasukkan satu persatu batang tebu dan memerintahkan kerbau untuk melakukan pekerjaannya.

Uniknya, kerbau tersebut hanya akan mematuhi perintah Mak Jroe, jika yang lain memerintah maka hewan ini tak akan memperdulikan.

 “Jak laju meutuwah” (jalan terus kesayangan),” perintah Mak Jroe kepada hewan kesayangan yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri, lalu kerbau tersebut langsung bergerak seolah-olah memahami betul perintah dari majikannya ini.

Layaknya jarum jam yang sedang bekerja, kerbau mulai berkeliling dengan mata tertutup untuk memerah sari tebu, air tebu turun perlahan di tempat penampungan.

Apabila terdengar olehnya suara hentakan kaki manusia atupun kendaraan seketika kerbau berhenti untuk berkeliling, melihat hal tersebut Mak Jroe membimbing lagi si sumber mata rezekinya untuk tetap fokus menyelesaikan pekerjaannya.

“Ooe kakapeugot lage, kajak ju meutuwah kajak laju (jangan bertingkah, berputarlah lagi),” ujar Mak Jroe sembari memasukkan tebu kedalam mesin penggiling.

Setelah semua proses mulai dari mengumpulkan batang tebu, membersihkan dan memeras. Sari tersebut dituangkan ke dalam kuali berukuran besar yang telah diletakkan di atas tanah berbentuk tungku, mereka menggunakan beberapa kayu dan ampas tebu untuk bahan bakar.

Api dihidupakan sampai membesar membantu proses pemasakan, sari tebu kian mendidih senada dengan lihainya tangan Mak Jroe yang sibuk menarik beberapa ampas tebu yang belum disaring tadi menggunakan daun tebu yang bersih.

Proses pemasakan tebu berkisar 7 sampai dengan 8 jam, ketika air sudah mengental dan warna kian berubah kecoklatan, mereka memasukkannya ke dalam kaleng sebagai bagian dari mengemas.

Dari proses yang terbilang rumit sekaligus memakan waktu yang tidak sedikit, manisan hanya terkumpul satu kaleng.

Perkaleng Meulisan dibandrol seharga Rp.350.000. Bagi Mak Jroe ini merupakan hasil yang terbilang cukup membuat asap dapurnya mengepul.

“Kami menjualnya sekaleng Rp.350.000 kepada agen, rezeki ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Abu Bakar.

Di usianya yang telah senja, Abu Bakar dan Mak Jroe setia ‘meu weng’ bersama kerbau kesayangannya yang ia pelihara dengan telaten.

Keube Weng milik Abu Bakar menjadi saksi terpeliharanya tradisi lokal di saat serbuan mesin teknologi pertanian semakin canggih menggeser mesin-mesin jadul.

Mak Jroe meski memiliki uang untuk membeli mesin, ia tetap memilih menggunakan kerbau sebagai pedang mencari rupiahnya. Semoga masih ada Mak Jroe dan Abu Bakar lainnya yang terus memelihara warisan nenek moyang untuk dipelajari bukan hanya dijadikan sejarah. (Len)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More