www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Ketabahan Aiyub dan Penyakit Yang Diderita Wardana

0 938

Acehasia.com | Aceh Utara – Aiyub adalah nama seorang Nabi dengan kesabaran yang besar. Mungkin ini pula yang dimiliki oleh seorang ayah bernama Aiyub. Ayah dari tiga orang anak asal Aceh Utara ini memang memiliki kesabaran yang besar.

Aiyub adalah ayah dari Ahmad Fauzan Wardana. Bocah laki-laki yang memiliki wajah tampan itu usianya kini masih genap enam tahun. Tepat pada 21 Februari 2020 mendatang, usianya menjadi tujuh tahun. Namun miris, penyakit yang dialami bocah tampan ini justeru menguras air mata.

Pada Minggu (22/12/2019), Acehasia.com menyambangi kediaman bocah kecil tersebut di Dusun Mihra Istimewa Desa Seurkey, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Dari dalam rumah yang hanya berlantai tanah, tampak seorang bapak menjawab salam.

Ya, diketahui bapak yang dimaksud adalah seorang ayah yang tangguh dan sabar yang tak lain ayah kandung bocah tampan tersebut bernama Aiyub (48). Sang ayah, mencoba menghibur anak laki-lakinya agar bisa tidur nyenyak sore itu sepulang dari kenduri dan doa bersama.

Suasana hening sempat berlangsung ketika sang ayah menceritakan awal mula penyakit yang menyerang anak laki-lakinya. Ternyata, Ahmad Fauzan Wardana yang akrab disapa Wardana memiliki kembaran berjenis kelamin perempuan.

Sang adik yang merupakan kembarannya berjenis kelamin perempuan dalam kondisi normal, namanya Rauja Wardani dan kini duduk dibangku kelas I Sekolah Dasar. Keduanya dilahirkan pada 21 Februari 2013 dari seorang ibu yang tangguh bernama Khomsiatun. 

Kebahagiaan saat itu sungguh mewarnai keluarga kecil tersebut, tak disangka bahwa ia bisa memiliki anak kembar. Namun nasib berkata lain, sang ayah harus menerima kenyataan sembari berdoa ada mukjizat dari sang pencipta nantinya, mungkin. Di mana memasuki sepuluh hari lahiran, Wardana mengalami demam tinggi.

“Wardana awalnya lahir dengan kondisi sehat bersama adiknya melalui operasi caesar. Memasuki sepuluh hari lahiran, anak saya ini tiba-tiba demam tinggi dan mengalami kejang-kejang. Saya dan isteri sempat membawanya ke rumah sakit,” terang Aiyub sembari senyum sumringah seolah ia menerima kenyataan itu.

Waktu terus berjalan, tahun pun berganti dan usia Wardana terus bertambah. Kesedihan Aiyub justeru memuncak, seiring harus memikirkan kesembuhan anak laki-lakinya ia justeru mengalami kenyataan pahit yang harus ia hadapi. 

Dua bulan lalu isteri tercinta yang tak lain ibu dari anak-anaknya berpulang kepada sang pencipta seiring ditengah perjalanan perjuangan keduanya untuk saling menyembuhkan sang anak. Semenjak itu, tak ada lagi kasih sayang dari lembutnya tangan seorang ibu untuk Wardana. Kini, Aiyub selain menjadi ayah juga seorang ibu untuk anaknya.

“Ibunya (isteri saya) sudah meninggal dua bulan yang lalu karena mengalami sakit. Kini, saya harus merawat anak. Terkadang saya bergantian dengan anak perempuan saya yang pertama sepulang sekolah. Saya bekerja sebagai buruh kasar demi memenuhi kebutuhan hidup,” kata Aiyub.

Aiyub memiliki tiga orang anak, anak perempuannya yang kini duduk dibangku kelas II Sekolah Menengah Pertama harus merawat adiknya sepulang sekolah. Waktu itu disempatkan secara bergantian dengan sang ayah yang mengurus adiknya sebelum sepulang sekolah.

Hidup digaris kemiskinan justeru membuat keluarga miskin yang satu ini tidak bisa berbuat banyak. Wardana pertama kali dibawa pengobatan saat dalam kondisi kejang-kejang ketika berusia sepuluh hari. Ketika itu, bocah tampan ini sempat dijarum infus.

“Pertama kali saya bawa berobat dan diinfus pihak medis. Nah, semenjak dijarum infus itulah anak saya ini berubah menjadi layu pada kedua kaki dan tangannya. Pengobatan selanjutnya belum saya bawa lantaran tidak ada biaya,” kata Aiyub.

Hingga kini, belum diketahui penyakit apa yang dialami bocah tersebut. Kedua tangan dan kakinya tampak layu menyerupai lumpuh layu.

“Belum tau apa penyakitnya karena belum pernah saya bawa ke dokter, tidak ada biaya untuk berobat,” tandas Aiyub.

Kini, Aiyub berjuang untuk semua itu. Dengan harapan dapat terkumpul sedikit uang agar ia bisa membawa anak laki-lakinya berobat dengan harapan bisa pulih dan normal seperti anak-anak lain seusianya. Apalah daya, bekerja sebagai buruh kasar dan petani, hanya cukup untuk makan saja. (Chairul/Hz)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More