www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Ikha, Artis Ibukota Hingga Film ‘Prasangka’ Di Aceh

0 1,035

Acehasia.com | Banda Aceh – Berkarir di dunia entertainment harus difikir secara matang karena itu akan mempengaruhi kehidupan seseorang. Konsistensi tinggi, teliti serta cermat dalam setiap tindakan. Namun demikian, menjadi public figure merupakan pilihan yang diimpikan semua orang.

Terlepas dari itu semua dalam menapaki karir harus dilakukan secara professional. Profesi artis tidak hanya dimodalkan oleh tampang atau good looking  namun memiliki kemampuan untuk mendalami setiap karakter yang akan dimainkan di dalam film.

Andi Swastika Novidha, salah satu pemeran film fiksi ‘Prasangka’ karya pemuda Aceh yang sudah berpengalaman di dunia perfilman. Sosoknya pernah memerankan film berepisode maupun beberapa iklan televisi, selain itu ia pula berpengalaman di belakang layar seperti membuat iklan partai politik.

Perempuan keliran tahun 1980 ini bahkan pernah membintangi sebuah film bersama dengan artis nasional seperti Inneke Koesherawati dengan judul ‘Mutiara Hati’. Ia memiliki peran menjadi sahabat baik Inneke dalam film tersebut pada tahun 2002. Selain itu, ia juga pernah membintangi iklan minyak telon.

“ Waktu itu saya pernah membintangi film sinetron menjadi sahabat baiknya Inneke di Jakarta, pernah juga membintangi iklan minyak telon, kalau dilihat masih ada jejak digitalnya di Youtube,”jelasnya kepada Acehasia.com.

Tak hanya itu, beberapa sinetron, iklan dan videoclip juga pernah dibintangi oleh perempuan kelahiran Makassar ini. meskipun demikian, ia merupakan sosok yang ramah dan mudah begaul dengan siapa saja.

“Saya kenal kak Ikha semenjak kita bareng syuting film Prasangka, dan saya melihat memang orangnya baik dan mudah berteman dengan siapa saja,”ujar Hadi, salah satu kru film tersebut.

Di ruangan berukuran 4×3 meter itu ia berbagi cerita hidupnya di dunia hiburan. Hingga akhirnya ia pindah ke Banda Aceh tiga tahun yang lalu  dan memerankan film fiksi kesehatan dengan judul ‘Prasangka’, dirinya sangat menikmati setiap proses syuting, baginya mendalami peran bukanlah hal yang rumit.

Film yang diarap oleh para sineas muda di Aceh yang tergabung dalam beberapa komunitas film ini merupakan film sekaligus peran pertamanya semenjak tinggal di Aceh.

Banyak resiko yang terjadi dilapangan saat proses syuting seperti lokasi yang jauh sehingga banyak makan waktu, mengutamakan scene deadline terlebih dahulu sehingga ada suatu waktu tidak syuting sama sekali.

“Passionnya memang sudah di dunia perfilman jadi ketika ada beberapa kendala yang rumit akan dibawa happy saja,” ujar wanita yang akrab di sapa Ikha ini.

Mengatur jadwal syuting tanpa mengabaikan anak serta keluarga, Ikha juga sangat professional dengan pekerjaan yang digelutinya. Soal pendalaman peran Ika mampu menguasai dengan baik.

Setelah berhasil memerankan tokohnya di film ‘Prasangka’, beberapa tawaran lain pun membanjirinya. Salah satunya peran mejadi wali kelas dalam film “Burong Tujoeh” yang juga diproduksi oleh sineas Aceh.

“Pernah main sebagai wali kelas yang harus sabar mengahadapi siswa susah diatur dan itu berbanding terbalik dengan peran di film Prasangka,” katanya.

Ikha berpendapat bahwa setiap daerah yang bekerja sama dengannya memiliki aturan berbeda, seperti benar-benar serius dan teratur namun di film ‘Prasangka’ ia merasa lebih kekeluargaan.

Untuk hasilnya pun diluar dari dugaan. Menurutnya hasil akhir dari film yang diperankan tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

“Enggak nyangka hasilnya ternyata bagus, tidak sesuai ekspentasi saya pikir. Tapi pas saya liat review filmnya ternyata bagus sekali,” pujinya.

Di dalam film tersebut Ibu dari dua orang anak ini berperan sebagai ibu geuchik yang mana diduga menderita penyakit aneh yang sehingga memiliki unsur pesan layanan kesehatan. Film bagus didistribusikan ke sekolah, rumah sakit, puskesmas dan layanan kesehatan karena berkenaan dengan isu sosial.

“Pengennya Banda Aceh tidak kalah dengan daerah lainnya dalam memproduksi film dan Banda Aceh juga memiliki wadah dalam memerkan film produksinya seperti adanya bioskop sehingga sineas muda Aceh lebih kreaktif,” harapnya.

Meski sudah hampir berkepala empat, Ikha masih tampak mempesona awet muda. Sejak pertama pindah ke Aceh ia harus menyusuaikan diri dengan selalu mengenakan hijab dan itu tidaklah sulit baginya.

“Kalau keluar Aceh sekarang agak aneh kalau gak pakai jilbab, jadi ke mana-mana selalu dipakai. Intinya kita harus selalu menghargai yang lebih tua dan mampu beradaptasi denagn siapapun,” ungkapnya.

Kini, film “Prasangka’ akan segera melakukan Gala Premiere pada tanggan 24 Oktober mendatang. (Helena/Hz)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More