www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

IDI Lantik Pengurus sekaligus Diskusi Publik

0 798

Acehasia.com | Banda Aceh- Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Banda Aceh laksanakan pelantikan kepengurusan untuk periode 2019-2022 yang bertempat di Ballroom Hermes Palace Hotel pada sabtu malam (27/7/2019).

Bersamaan dengan kegiatan tersebut juga dilaksanakan diskusi publik yang bertemakan “Masihkan Kota Ini Butuh Dokter”. Dalam kegiatan tersebut turut hadir Walikota Banda Aceh H. Aminullah Usman, SE, Ak, MM, Forkopimda Kota Banda Aceh, Ketua Umum PB IDI, Direktur RSUDZA, Dekan Fakultas Kedokteran Unsyiah, serta tamu undangan lainnya.


Acara ini sendiri diawali dengan pembacaan ayat suci al-quran dan dilanjutkan dengan laporan ketua panitia oleh dr. M. Ariz Chandra yang dalam laporannya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan kegiatan ini serta mengucapkan selamat bertugas kepada pengurus IDI kota Banda Aceh.


Dalam sambutannya ketua IDI Kota Banda Aceh periode 2019-2022 dr. Isra Firmansyah Sp.A., Ph.D menyampaikan bahwa kepengurusan IDI periode ini dinamai dengan “KEMILAU” yang bermakna kesejawatan, etika, moralitas, ikhlas, luhur, amanah, dan unggul. “program kerja IDI kedepan diantaranya Call IDI 24 jam, doto tamong sikula, FGD, sikula juara serta beberapa program unggulan lainnya” ungkap dr. Isra Firmansyah.

Ketua Umum PB IDI dr. Daeng M. Fakih, SH, MH dalam kehadiran pada kegiatan tersebut turut memperkenalkan konsep medical tourism dihadapan para dokter IDI kota Banda Aceh dan tamu undangan. Selain itu ketua umum PB IDI mengharapkan kepengurusan IDI kota Banda Aceh dapat melakukan konsolidasi dengan berbagai pihak sehingga peningkatan kualitas pelayanan serta terpenuhinya perlindungan hukum bagi para dokter.


Diskusi Publik
Selain kegiatan pelantikan, pada kesempatan tersebut juga dilaksanakan diskusi publik dengan pemantik diskusi yaitu dr. Iflan Nauval, M.SclH dengan mengangkat isu terkait kesejahteraan profesi dokter, regulasi pemerintah, doctorpreneur dan peluang kerja, perlindungan hukum, serta medical tourism. Dalam diskusi tersebut turut berbicara tokoh-tokoh kesehatan seperti Prof. Dr. dr. H. Mohd. Andalas, SpOG, Ketua Umum PB IDI dr. Daeng M. Fakih, S.H., M.H., Dr. Maimun Syukri, SpPD serta beberapa tokoh lainnya.


Ketua umum PB IDI dalam pandangannya terkait medical tourism mengatakan perlunya pelaksanaan konsep tersebut dengan adanya kolaborasi dari akademisi/profesi, pebisnis, civil society, media dan pemerintah. Selain itu beliau juga menyinggung terkait gaji dokter dimana beliau mengatakan, “kami dipusat akan mendorong untuk meningkatkan standar yang pasti terhadap gaji profesi dokter” pungkasnya.


Tokoh kesehatan Aceh Prof. Dr. dr. H. Mohd. Andalas, SpOG juga ikut menyampaikan pandangannya dalam menanggapi persoalan kesejahteraan dokter. Menurutnya harus ada suatu regulasi khusus yang mengatur besaran pokok gaji yang sesuai dengan jam kerja, karena dokter memiliki jam kerja yang tidak beraturan bahkan sampai ada yang 14 jam sehari dalam bekerja. Disisi lain beliau juga memberikan nasihat kepada dokter-dokter muda untuk melihat profesi ini sebagai pekerjaan mulia yang harus dilakukan secara maksimal tanpa memandang besaran gaji terlebih dahulu.
Dekan Fakultas Kedokteran Unversitas Syiah Kuala juga turut memberikan pendapat terkait persebaran dokter yang tidak merata disetiap daerah “dokter hanya menumpuk di daerah kota saja, tetapi tidak tersebar ke daerah-daerah pelosok’’ Ujar dr. Maimun, sehingga perlunya pemerataan penempatan dokter.
Juru bicara pemerintah Aceh Saifullah Abdul Gani yang juga turut hadir pada kesempatan tersebut juga menyampaikan gagasan terkait medical tourism dimana beliau menyebutkan bahwa Aceh adalah tempat yang strategis untuk dikembangkanya konsep tersebut. Beliau juga menawarkan kota Sabang sebagai tempat untuk dikembangkannya konsep tersebut, karena daerah tersebut merupakan kawasan zona ekonomi bebas pajak sehingga alat-alat medis yang tergolong barang mewah, akan bebas dari pajak seperti di Malaysia.
Pada akhirnya semua pihak yang hadir berkomitmen untuk mendukung konsep Indonesia sebagai salah satu tujuan medical tourism bahkan mengharapkan Aceh bisa menjadi pilot project dalam pengembagan konsep medical tourism tersebut.


Dekan Fakultas Kedokteran Unversitas Syiah Kuala juga turut memberikan pendapat terkait persebaran dokter yang tidak merata disetiap daerah “dokter hanya menumpuk di daerah kota saja, tetapi tidak tersebar ke daerah-daerah pelosok’’ Ujar dr. Maimun, sehingga perlunya pemerataan penempatan dokter.
Juru bicara pemerintah Aceh Saifullah Abdul Gani yang juga turut hadir pada kesempatan tersebut juga menyampaikan gagasan terkait medical tourism dimana beliau menyebutkan bahwa Aceh adalah tempat yang strategis untuk dikembangkanya konsep tersebut. Beliau juga menawarkan kota Sabang sebagai tempat untuk dikembangkannya konsep tersebut, karena daerah tersebut merupakan kawasan zona ekonomi bebas pajak sehingga alat-alat medis yang tergolong barang mewah, akan bebas dari pajak seperti di Malaysia.
Pada akhirnya semua pihak yang hadir berkomitmen untuk mendukung konsep Indonesia sebagai salah satu tujuan medical tourism bahkan mengharapkan Aceh bisa menjadi pilot project dalam pengembagan konsep medical tourism tersebut.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More