www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Bi Imah: Harapan saya Cuma satu

0 1,061

Bangunan ini sepertinya tak layak dikatakan rumah. Hanya sepetak ruang berukuran 4×4 meter. Dihiasi dengan dinding kayu yang tampak sudah rapuh dan berlubang yang ditutupi oleh koran bekas, hanya beralaskan tanah. Pencahayaannya pun terbatas. Atap seng yang nyaris roboh sekedar untuk melindungi mereka dari panas matahari dan hujan yang turun. Begitulah sekiranya penampakan tempat tinggal Bu Fatimah dan keluarga yang mereka sebut rumah.

Bi Imah, sapaan para warga Pusong kepada Ibu 4 anak ini adalah seorang ibu yang bekerja mengontrol sumur bor di daerah Pusong, Kota Lhokseumawe. Suaminya adalah tukang becak ikan yang tak menentu penghasilannya. Ia paham, kehidupan keluarganya tidak bisa hanya mengandalkan penghasilan sang suami. Maka dari itu, Bi Imah berusaha bekerja keras demi menghidupi keluarganya.


Selain menjadi pengontrol sumur bor, Bu Imah juga membantu tetangganya berjualan nasi gurih di pagi hari. Bisa jadi mencuci piring, membersihkan ikan, atau sekedar membersihkan toko. Apapun ia kerjakan demi keluarganya.


“Saya pagi bantu tetangga saya yang jualan nasi gurih. Cuci piring, bersihin ikan. Siang sampai sore bahkan sampai tengah malam saya ngurus sumur bor. Apa aja saya kerjakan asal saya dibayar. Uangnya untuk keluarga saya,” Ucap Bi Imah.


Ibu dengan 4 anak ini tidak pernah mengeluh dengan kondisi. Ia menceritakan keinginannya dengan suara yang lirih, sesekali tangan Bi Imah menyeka matanya yang berkaca-kaca. Ia tak sadar ada tetesan air mata yang mengalir membasahi dipipinya. Dia adalah sosok wanita pekerja keras. Pekerjaan yang ia lakukan setiap hari semata-mata hanya demi pendidikan anaknya. Ia hanya menginginkan satu, Ia ingin anaknya bisa menjadi orang yang berpendidikan. Orang yang berguna melebihi orangtuanya.


“Semua yang saya kerjakan ini demi anak saya. Apapun saya kerjakan. Asalkan anak saya bisa sekolah. Suatu hari nanti bisa jadi orang yang berpendidikan. Orang yang berguna. Jangan seperti Ibunya yang hanya lulusan SD. Saya bilang sama anak-anak saya nak jangan bandel disekolah ya. Jangan merokok. Kalo abang sayang sama mama belajar bagus-bagus biar jadi orang berpendikan dan berguna,” Ujar Bi Imah sambil menyeka airmatanya.


Bi Imah yang mempunyai hobi bernyanyi ini juga bercerita di atas kursi panjang depan rumahnya yang sudah terlihat rapuh. Ia tak ingin menjadi orang yang hanya bisa meratapi kesedihannya. Ia mengerti kehidupannya sudah susah. Tetapi ia tidak ingin merasakan kesusahannya itu. Sering kali ia bekerja sambil bernyanyi untuk menghilangkan rasa sedih dan lelah yang ia rasakan. Tetangganya pun menceritakan bagaimana sosok Bi Imah yang begitu ceria dimata warga Pusong.


“Bi Imah sering bantu ummi saya jualan nasi. Kadang dia bantu cuci piring, kadang bersihin ikan. Apa aja dia lakukan. Dia orangnya ceria sekali dan sangat pekerja keras. Setiap ke toko kadang sambil cuci piring sambil nyanyi. Kita pun jadi semangat. Pernah pada suatu hari nasi kurang laku. Awalnya saya dan ummi merasa sedih. Tapi karena Bi Imah nyanyi menghibur kami dan bisa melarutkan suasana. Kami pun jadi tidak sedih lagi. luar biasa energi Bi Imah itu,” Ujar Zahratul Aina tetangga Bi Imah.


Wanita paruh baya kelahiran 1973 ini tak hanya menanggung 4 anak dan seorang suami. Ia juga menanggung kehidupan keponakannya yang sudah lama tinggal bersama nya. Ia paham pendidikan itu untuk semua orang. Ia juga berusaha membiayai sekolah keponakannya hingga bangku SMK.


Terkadang ia sadari, penghasilannya yang hanya 600.000/bulan untuk membiayai 7 orang tidaklah cukup. Tetapi ia menerapkan sifat menabung dan bersyukur. Ketika ia dapat rezeki maka ia sisihkan sebagian uangnya jika sekiranya suatu hari nanti rezeki mereka sedang tidak ada. Dan ia selalu bersyukur apapun yang ia dapat karena itu rezeki dari Tuhan.


“Kalau dibilang cukup sebenarnya tidak cukup. Tetapi kita harus bersyukur sama rezeki yang sudah Allah beri dan pinter-pinterlah mengatur uang. Setiap dapat uang saya selalu sisihkan dan simpan di lemari. Kali besok atau lusa tidak ada rezeki saya ada simpanan,” Ujar Bi Imah.


Di akhir cerita, Bi Imah mengatakan bagaimana ia berjuang dan bekerja keras semata-mata hanya untuk anak-anakanya. Ia menaruh harapan besar kepada anak-anaknya. Ia yakin suatu hari nanti kerja kerasnya kini akan terbalaskan dengan melihat anak-anaknya menjadi manusia yang berguna.


“Harapan saya cuma satu. Melihat anak-anak saya menjadi anak-anak yang berpendidikan,” Tutup Bi Imah sambil tersenyum. (Hz)

Penulis: Dian Yustikadinata Putri

Bi Imah Sedang Duduk Di Depan Rumahnya

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More