www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Gajah Berusia Satu Tahun Ditemukan Mati di Aceh Jaya

0 518

Acehasia.com | Aceh Jaya – Lagi dan lagi, kematian gajah liar Sumatera kembali ditemukan di Provinsi Aceh. Kali ini gajah jantan yang diprediksi berusia satu tahun ditemukan mati di kawasan Areal Penggunaan Lain (APL) perkebunan warga yang tidak terawat.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh, Agus Arianto, kepada wartawan mengatakan bangkai gajah jantan ditemukan oleh warga di kawasan APL Perkebunan warga yang tidak terawat lagi di sekitar Desa Kampung Baroeh, Kecamatan Setia Bakti, Aceh Jaya.

Pihaknya bersama TNI Polri, dokter hewan, petugas Resort Aceh Jaya dan CRU serta Muspika setempat pada Rabu (29/04/2020) juga telah melakukan olah TKP dan Nekropsi terhadap bangkai gajah tersebut. Dari hasil olah TKP tidak ditemukan adanya hal-hal atau barang-barang yang mencurigakan.

“Temuan bangkai bayi gajah ini berdasarkan informasi dari masyarakat. Dari hasil olah TKP tidak ditemukan adanya hal-hal atau barang-barang yang mencurigakan. Sedangkan dari hasil nekropsi yang dilakukan oleh tim dokter hewan BKSDA Aceh, tidak ditemukan tanda kekerasan,” ujar Agus kepada wartawan, Kamis (30/04/2020).

Hasil yang diperoleh dari nekropsi dokter diantaranya secara fisik pada bangkai bayi gajah tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan seperti luka tusuk, sayat, peluru, sengatan listrik, bakar ataupun benturan trauma tumpul. Kondisi bangkai bayi gajah sudah mengalami autolysis/ putrefaction (pembusukan).

Kematian bayi gajah diperkirakan 4-5 hari yang lalu.
Bayi gajah berjenis kelamin jantan dengan perkiraan usia ± 1 tahun. Jaringan di bawah kulit sangat kering dan terdapat perubahan yang signifikan pada hampir seluruh organ penting (jantung, hati, ginjal, dan dinding usus) dimana jaringannya sangat lunak dan mudah hancur.

Hal ini, sebut Agus, bisa diakibatkan karena pengaruh proses autolysis/ putrefaction (pembusukan) mengingat usia satwa yang masih sangat muda ataupun pengaruh dari zat-zat yang bersifat racun (toxic). Dari hasil nekropsi yang dilakukan secara makroskopis bahwa kematian bayi gajah tersebut diduga karena, (satu) toksicosis/ keracunan.

Atau (dua) factor kelelahan akibat tingkat mobilitas yang tinggi karena konflik yang terjadi. Guna mengetahui kepastian penyebab kematian bayi gajah, sampel organ yang meliputi isi saluran cerna, hati, ginjal, dan jantung akan dikirim ke Pusat Laboratorium Forensik untuk dilakukan uji laboratorium/ toksicologi.

“Selanjutnya BKSDA Aceh akan terus berkoordinasi dengan pihak Polres Aceh Jaya untuk mengetahui ada tidaknya unsur pidana terkait dengan penyebab kematian bayi gajah tersebut. Gajah Sumatera (elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu jenis satwa liar dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan,” jelas Agus. (Chairul)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More