www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Fahmi, Pilih Pulkam Untuk Kenalkan Budaya Pidie Selama Pandemi

0 590

“Kalimat menggugah seperti apalagi yang harus saya tambahkan untuk tulisan ini ya len?,” tanya seorang mahasiswa laki-laki asal kabupaten Pidie tersebut.

Tangannya sedari tadi sibuk bermain dengan pena dan selembar kertas, sesekali keningnya mengerut dan menatap langit seolah sedang mencari ide lanjutan untuk tulisannya.

Namanya Fahmi Nurianda Akbar jurnalis Radio Assalam UIN Ar-Raniry yang memilih pulang kampung untuk mengenalkan budaya Pidie selama pandemi.

Ketertarikannya di dunia jurnalistik tentu tidak mengahambatnya untuk terus berkarya, Ia begitu mencintai tempat kelahirannya, hal ini terbukti saat dirinya mengajak penulis menemui Masykur pendiri Pedir Meseum, sang kolektor dan peneliti manuskrip, Masykur mengakui bahwa Fahmi menjadi salah satu sahabatnya saat mencari benda antik peninggalan Kabupaten tersebut.

“Banyak benda antik yang saya cari saat masih dibangku MAN dulu, ada pula yang saya dapatkan dikandang ayam, nah saat itu salah satu teman yang mendampingi saya yaitu Fahmi ini,” sebut Masykur.

Saat kampus biru mengumumkan meliburkan kuliah tatap muka, dirinya memilih kembali ke kampung halaman untuk menolong orang tua dan untuk mengusir rasa bosannya ia memilih mencari aktifitas bermanfaat seperti mengenalkan budaya dan kekayaan Pidie, menggunakan wadah media social Instagram.

“Saya ingin menjadi pelopor bahwa Pidie bukan hanya terkenal pelit (kriet), Pidie itu terkenal dengan kekayaan wisata dan kuliner dan untuk mengenalkannya tentu memerlukan peran kaula muda seperti saya dan remaja lainnya,” jelasnya bangga.

Hal ini terlihat dari logat bahasa Acehnya yang masih sangat kentara. Ia juga menekankan kepada setiap muda-mudi untuk tidak melupakan khazanah kebudayaannya.

Melalui video yang diunggahnya, salah satu video tersebut berisi bahwa Fahmi sedang mengenalkan tentang kerupuk muling (emping melinjo) yang jadi primadona Pidie, tak puas disitu saat ini ia terus memikirkan ide-ide saat mengisi kekosongannya.

“Banyak yang mengeluh bosan selama pandemi, kerjaan asik rebahan dan menghabiskan kuota. Menurut saya itu hanya pedoman hidup pemalas yang tidak pintar memamfaatkan peluang dalam mengisi kekosongan,” sebut Fahmi.

Selain mengenalkan budaya Pidie, ia mulai belajar melatih diri dalam hal olah vokal dengan cara belajar dubbing secara otodidak.

“Bagi saya, dubbing menjadi sarana menyampaikan aspirasi dan kreatifitas saat #dirumahaja. Segala hal bisa menjadi wadah untuk voice over yang sebenarnya sangat sulit dan membutuhkan skill yang mumpuni, Corona mungkin mengekang kegemaran saya berseni, namun seni bisa lahir dari mana saja. Sambil membantu ibu saya menjual tape setiap subuh pagi, saya juga bisa melakukan hal yang saya inginkan,” sebutnya.

Baginya, sebagai bagian dari Duta wisata Kabupaten pidie, ia menjadikan dubbing, voice over, dan vlog sebagai media promosi wisata disaat pandemik seperti sekarang ini.

Dikatakan Fahmi, walau pandemi mengikat pariwisata. Namun pariwisata Aceh bisa digalakkan dengan media sosial dan media online. (Len)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More