www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Eva Hz, Sineas Muda Yang Mengudara Lewat Susunan Kata

0 813

Acehasia.com |Banda Aceh – Bunyi keyboard laptop berirama memenuhi sebuah ruangan berukuran 4×4 meter itu. Tidak ada suara lain, hanya sayup-sayup ocehan pengunjung warung kopi yang tengah asik bermain dengan gawainya.

Kacamata dengan gagang hitam kecil melekat di matanya. Sesekali ia kembali menyambung cerita jalan hidupnya hingga kini  menjadi seorang sineas sekaligus penulis di Tanah Rencong.

Eva Hazmaini (22), masih fokus dengan layar segi empatnya dan juga jari-jemari yang menari-nari di atas tombol-tombol huruf.  

Remaja kelahiran Binjai ini merupakan anak Aceh yang memiliki potensi dibidang penulisan. Meskipun jarang diketahui publik, ternyata perempuan yang akrab disapa Eva ini sudah memiliki berbagai tulisan disejumlah media di Aceh, baik cetak maupun media online.

“Pernah menulis disalah satu rubrik opini Kupi Beungoh di Serambi, pernah magang juga di Koran HRA, juga sempat menulis sebagai wartawan di salah satu media online di Banda Aceh,”ungkapnya kepada Acehasia.com

Ceritanya berawal dari ketertarikan Eva dalam menulis puisi. Meski dirasa tulisannya tak seindah syair pada umumnya, setidaknya ia memiliki kepuasanterendiri dalam menulis dan mencurahkan isi hatinya.

Menyambung pendidikan di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam nyatanya bukan sebuah keputusan buruk. Meski pada awalnya ia kurang paham dengan jurusan yang dipilih, namun ternyata ia menghantarkannya ke jalan yang sesuai dengan passion yang dimiliki.

Tahun pertama kuliah, ia langsung bergabung dengan sebuah (Unit Kegiatan Pers Mahasiswa) UKPM Sumberpost. Meski data itu ia masih mencari dan mendalami bakat yang dimilikinya. Hingga ia memberanikan diri untuk mendaftar sebagai salah satu jurnalis di media online.

Lambat laun, remaja dengan tinggi 164 sentimeter ini terbiasa menulis jurnalistik.  Meski demikian, ia tetap memiliki ketertarikan lebih pada jenis tulisan Features, karena baginya jenis tulisan ini memiliki bentuk yang lebih santai.

“Saya lebih suka menulis features, karena ketika menulis tidak langsung to the point, tapi mengalun dan berirama, kita membawa perasaan pembaca sesuai dengan yang kita inginkan,”jelas perempuan kelahiran 1997 ini.

Kini, Eva tercatat sebagai salah satu editor tulisan di sebuah media online yang juga berada di Banda Aceh.

“Dulu ketika saya menjadi wartawan, saya melihat teman saya sudah menjadi editor tulisan, saat itu saya ingin juga seperti dia, tapi saya tau saya belum mampu dan ternyata sekarang saya bisa merasakan bagaimana menjadi editor.” Jelasnya sambil sesekali mendorong kacamatanya lebih dekat.

Selain di dunia jurnalistik, Eva juga berkiprah di bidang seni audio visual. Berbekal kemauannya dalam menulis, Eva turut dilibatkan dalam pembuatan sebuah film bersama kolaborasi komunitas sineas yang ada di Aceh.

Dengan judul Film ‘Prasangka’ menjadi acuan awal ia menjadi seorang Script Writter.

“Naskah film prasangka saya tulis dari bulan dua kemarin dan direvisi selama sebulan lebih. Lemabarannya mencakup 20 halaman dan scene nya ada 50. Prosesnya terkadang saya bergadang dalam menulis naskah film ini,” ungkapnya.

Naskah film yang di produksi oleh para sineas muda Aceh ini merupakan karyanya pertama yang juga rumit sesudah ia bergelut di profesi Jurnalis.

Perempuan yang juga merupakan seorang atlet voli  ini menceritakan persoalan alasan naskah cerita yang di tulisnya dengan wajah komedi dalam film ‘Prasangka’ agar terkesan pada penonton bosan. Dengan begitu naskah di tulis dengan konten kesehatan dibalut dengan komedi.

Membuat film dengan isu kesehatan akan lebih sulit untuk dikemas jika tidak beriringan dengan unsur komedi. Kebanyakan penonton tidak ingin mendapatkan materi yang terlalu berat ketika menyaksikan sesuatu.

“Kita sengaja mengemas unsur kesehatan itu di dalam komedi. Supaya semua kalangan bisa mengerti, dari anak kecil, remaja, dewasa dan orang tua sekaligus,”tegasnya.

Dalam pengemasan cerita juga masih menonjolkan seni dan kebudayaan masyarakat Aceh seperti Beut Ba’da Meughreb,  dan lokasi wisata yang ada di Aceh serta Aceh Besar.

Baginya, tak jauh berbeda antara menulis naskah dengan yang selama ini dia kerjakan, hanya perbedaan cara penyajiannya saja.

“Enggak jauh beda sih, beda penyajiannya saja, dan lebih mendetail serta lebih logis antara adegan satu dengan yang lainnya, juga tentunya tulisannya lebih panjang,”imbuhnya.

Di samping itu ia Eva juga merupakan salah satu pendiri Komunitas Aceh Bergerak yang kini menjadi sebuah yayasan yang bergerak di bidang pembuatan film dan berbagai kegiatan kreatif. Menjabat sebagai Sekretaris selalu membuatnya memiliki kesibukan diberbagai bidang.

Tak hanya itu, ssebelumnya ia dan beberapa sineas muda Aceh juga membentuk sebuah koumunitas dengan nama KOPIAH (Komunitas Pilm Aneuk Aceh) pada 2018 lalu. Meski masih sangat muda dari segi umur, namun mereka mampu membuktikan bahwa anak Aceh memiliki bakat dalam pembutan film di dunia kreatif.

Hal ini dibuktikan dengan gelar juara yang diraih secara berturut-turut pada lomba pembuatan film yang dilakukan di tingkat Kodim dan Kodam di Banda Aceh.

Beberapa waktu lalu, Eva dan teman-teman lainnya juga baru menyelesaikan pembuatan film yang nantinya akan ditayangkan pada peringatan 15 tahun Tsunami.

Cita-citanya belum tercapai untuk menjadi Sutradara film. Meski saat ini dalam proses belajar untuk perkembangan potensi kedepan.

“Saya memiliki cita-cita kecil inin menjadi sutrada atau produser film, jadi dalam setiap kesmepatan saya masih belajar untuk menjadi lebih paham dan profesional dala menjalanka tanggung jawab ke depannya,”curhatnya.

Baginya, tidak ada keterbatasan dalam berkarir. Meski memiliki eterbatasana dalam alat dan media tidak menjadikan alasan untuk berdiam diri dan menunggu.

“Kita generasi muda penerus bangsa, tidak bisa hanya berdiam diri dan berpangku tangan, jika alasannya tidak ada bioskop di Aceh lalu kita diam menunggu sampaikapan Aceh akan berubah, jadi tetap kreatif dalam keterbatasan,”tuturnya.

Dengan demikian orang bisa melihat apa yang kita buat. Dari itu nanti akan muncul anak muda untuk berkarya di dunia perfilman lebih banyak lagi menjadi sineas masa depan. (Fauzan/Hz)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More