www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Cerita Tarmizi, Si Satpam di Ibukota

0 778

Acehasia.com | Banda Aceh – Jam menunjukkan pukul 6:30 WIB . Kebanyakan orag mengawali aktivitasnya pada pagi hari. Salah satunya adalah Tamizi(22), remaja laki-laki ini mengawali paginya dengan bergegas dengan seragamnya.

Disebelah kanan baju dongker gelapnya bertuliskan nama ‘Tarmizi, sedangkan sebelah kirinya bertuliskan ‘Satpam’. Ya, itulah profesi yang kini dijalankan pria kelahiran 16 Juli 1997 ini.

Ia menjadi Satpam di sebuah perusahaan Bandara Poltekom Jakarta Selatan. Meski begitu, membuat sosok Tarmizi menjadi banyak memiliki perubahan ketimbang hanya menghabiskan nongrong setiap hari di kampung halamannya.

Anak dari Nasruddin dan Juliana ini sejak masa sekolah bercita-cita menjadi aparat keamanan negara.Tahapan demi proses ia lakukan, dua kali sudah dirinya melakukan tes kepolisian tetapi hasil tidak baik terbukti karirnya buka di abdi negara.

Sesudah banyak pelajaran dan pengalaman yang ia dapatkan dari Aceh di tanah kelahirannya, lelaki berkelahiran, ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta sesuai dengan menuaikan keinginannya supaya menjadi pria sukses.

”Sambil duduk saya merenung bahwa gimana masa depan nantinya apakah harus selalu minta sama orang tua atau saya yang harus bekerja keras. Saya jadi kepikir banyak kawan-kawan saya sudah sukses di usia muda baik itu di Aceh maupun di daerah lain. Dari situlah saya bisa termotivasi”, katanya.

Seusai tamat sekolah pria yang akrab di sapa Mizi inijuga pernah bekerja di Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh Besar. Namun ia merasa tidak puas dengan apa yang sudah didapatnya dan hanya bekerja beberapa bulan saja di sana.

Hingga akhirnya di bulan Agustus tahun 2019 kemarin ia diterima sebagai seorang security di Ibukota Jakarta. Sebelum menuju ke jalur tes ia sempat cemas dikarenakan tinggi badan yang di minta tidak mecukupi dengan postur tubuhnya. Tapi dengan sungguh-sungguhnya dilihat oleh komando security akhirnya dengan tinggi 168 cm ia bisa mencapai keinginannya bisa bekerja.

”Kerja jelas susah tes pun gatau bagaimana penilaiannya. Sayapun banyak kurang juga apalagi soal tampan juga tidak seberapa dari yang lain,”ujar Mizi.

Tiga bulan bekerja akhirnya pria yang dikenal humoris ini bisa memetik satu keinginannya dengan membeli sepeda motor dari hasil kerja kerasnya.

Kenyataan sebuah perubahan yang ia capai dengan gajinya yang tidak seberapa. Semasa di Aceh dirinya sulit untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Jangankan untuk membeli motor, membeli hanphone pun susah dari hasil keringatnya sendiri. Menurutnya, ia terlalu royal dan boros makanya ia susah hemat duit.

Mizi bekerja dari Senin sampai Jumat. Ada sekitar 22 orang security yang menjaga keamanan dan memantau barang-barang yang ada di tempat ia bekerja. Begitupun halnya komandan selalu memantau kerja baik para personilnya.

“Biasanya saya di hari libur, kalau ada waktu luang saya pergunakan untuk edit video, selebihnya saya gunakan waktu untuk santai dan olahraga,” ungkapnya.

Kesukaan seperti edit video tersebut sudah memang jauh hari ia lakukan sewaktu dirinya masih di Aceh. Saat itu ia pernah membuat konten vlog namun sedikit penikmat dengan situasi milenial Aceh sulit ditemukan vlogger yang kreatif.

Tidak hanya itu, ia juga melukis prestasinya di bidang olahraga. Ketika masih di bangku persantren ia pernah juara 1 pertarungan beladiri pencak silat antar persantren tahun 2010 . Hal yang sama juga terulang ketika ia mengikuti kompetisi O2SN pencak silat juara 1 antar sekolah tahun 2012.

Selanjutnya prestasi sepak bola juga memperoleh kemenangan. Diikuti dengan turnamen Futsal Pra-PON juara 2 tingkat kabupaten Aceh Besar dan Juara 2 futsal di piala rektor III Unaya.

Enam bulan menjadi anggota security di ibukota Mizi juga tidak lupa mengirimkan gajinya kepada orangtua untuk keperluan sehari-hari. Terkadang ia juga mengirimkan gajinya kepada seorang adiknya Zakaria (18) masih mondok salah satu Dayah ternama di Aceh.

”Pasti setiap penerimaan gaji teringat untuk kirim walau sedikit untuk orangtua dan adik saya lagi mondok,”paparnya.

Pria yang dikenal ramah dan gampang bergaul ini terkadang juga memberikan sedekah semampunya kepada orang yang membutuhkan di sana. Bukan hanya dengan uang tapi dengan makanan bisa juga memberikan.

Ada yang berbeda di ibukota dengan Aceh yaitu langkanya tempat ngaji atau jenis acara keagamaan lainnya.

“Kalau mau ngaji di sini tu cuma di mushalla aja selain tempat itu ya langka dan sulit ditemukan. Tidak sama kaya Aceh yang banyak Dayah dan Persantren,”ucap pria yang juga sering disapa bang Min.

Bukan hanya gaji yang ia utamakan di sana, akan tetapi sebuah pengalaman dan rasa konsistensi tinggi untuk bekerja. Untuk sertifikat kerja juga memang sangat butuh kita dapatkan.

Ia menceritakan selama bekerja ia sering diterima surat peringatan oleh komandannya. Terkadang dengan wajah yang ceria ia menanggapi hal kesalahan tersebut.

“Saya telat datang kerja dan sering lalai, tapi itu tidak apa-apa ini teguran untuk memperbaiki kesalahan”, tegasnya.

Pria Aceh Besar ini berkeinginan jika ia sudah mapan nanti ingin berkeluarga dengan uang hasil keringatnya sendiri dan mendirikan usaha kecil-kecilan serta ia menafkahi ibu dan bapaknya dengan tanggung jawab seorang abang tertua.

Harapannya ke depan semoga tidak terulang lagi kedalam hal yang membuang-buang waktu muda dengan foya-foya. Ia akan terus bekerja untuk menjadi sosok lelaki sejati.

Nah, bagi kita remaja milenial yang produktif, inovatif dan kreatif mau abaikan waktu seberapa lama dalam rebahan. Ayo buktikan bahwa kita bisa ceria seperti remaja yang sukses lainnya. Buruan jangan rebahan. (Fauzan)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More