www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Bos Wir, Mantan Kombatan GAM Berkarir di Dunia Perkebunan

0 894

Acehasia.com | Banda Aceh – Sanubari alam yang hijau membawa keceriaan di sore itu. Burung-burung berkicau dengan deringnya nada yang dimainkan. Terlihat beberapa pekerja kebun maupun pengendara di jalanan kampung Lampoh Raya yang terletetak di Samahani Aceh Besar melintasi jalan dan berbukitan.

Azwir Basyah  salah satunya. Mantan Kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Aceh Besar itu terlihat manis dengan kulitnya yang sawo matang.

Azwir memiliki profil perjuangan ketika era konlik yang lalu dengan banyak membantu para pejuang melawan kemerdekaan. Ia tidak banyak memegang senjata akan tetapi beliau berperan penting dalam pusat komunikasi logistik dan konsumsi terhadap para rekan-rekannya yang berada di pegunungan dalam.

Dirinya juga pernah dikejar oleh para tentara tapi dirinya mampu meloloskan diri dengan keahliannya sendiri sehingga pengepungan tidak sempat menghantamkan dirinya.

Setelah kejadian itu, Azwir terus berhati-hati dalam menjalankan tugasnya sehingga pulang ke rumah pun tidak tepat waktu.

“Karena mengapa? Ketika terjadi operasi dahsyat di gunung samahani ini abang saya Muhklis Basyah tidak pulang juga ke rumah karena memang sudah darurat kali waktu itu. Jika ada komunikasi atau kabar dari kombatann lansgung aparat mencarikan di mana keberadannya,”ujarnya.

Pria tinggi 172 sentimeter dengan sapaan Bos Wir ini mengatakan rumahnya pun dijaga ketat oleh aparat ketika masa konflik. Pagar rumahnya diberi garis merah sebagai tanda.

 “Aparat berkubu-kubu berada di atas pegunungan kami dan pun aktivitas para kombatan GAM termasuk abang saya sulit berinteraksi di dekat jalan perkampungan,”ungkap Bos Wir kepada Acehasia.com.

Komunikasi non verbal hal yang efektif digunakan ketika itu. Banyak istilah komunikasi yang harus dipelajari antara sesama kombatan GAM, itulah mengapa, dengan memahami komunikasi non verbal itu mereka dapat emnajalankan tugasnya dengan baik.

Sekita 100 anggota lebih para pejuang Aceh yang berada di dalalam hutan selama berperang juga menghormati kumandang azan yang berlangsung karena mereka tahu bahwa sang pencipta melindungi para orang yang taat kepadanya.

Ketika memasuki bulan Desember 2004, kesedihan terus melanda orang Aceh dengan diturunkan peringatan oleh sang khaliq berupa Tsunami. Saat itu banyak TNI, GAM dan juga masyarakat terutama di Banda Aceh dan Aceh Besar menjadi korban.

“Dengan bencana itu ada sedikit reda perang di daearah kami. Sehingga kombatan GAM turun dari gunung yang berdekatan dengan lokasi kejadian untuk membantu masyarakat dan pemerintah dalam membersihkan arus jalan, lingkungan, rumah serta mesjid yang tertera kayu bangunan tsunami. Begitupun pihak polisi dan TNI saling membantu dan mencarikan rekannya yang meninggal,”kenang Bos Wir.

Brulah menjelang tanggal 15 Agustus 2005 petinggi GAM sepakat mennadatangani damai Aceh di Filandia. Kini keburukan ekonomi dan politik Aceh kembali membaik. Tiada lagi penindasan dan kekerasan senjata yang terjadi pasca damai.

Terkait dengan perdamaian, ia juga melihat dari segi ekonomi keluarga korban sudah begitu membaik dengan adanya aturan khusus dan pelayanan kepada setiap pihak yang terlibat.

Melalui MoU (Momerandum of Understanding) Helsinki itu masyarakat Aceh sudah kembali status  masyarakat dengan meninggalkan jabatan kombatan.

“Asesoris, seragam, dan peralatan perang kami juga sudah diserahkan kepada aparat yang ingin memusnahkan senjata butiran GAM di Blang Padang Banda Aceh dengan disaksikan sekian banyak Komabatan GAM yang berhadir serta AMM (Aceh Monitoring Mission),”jelas Bos Wir.

Salah satu situs perjuangan yaitu Bendera Alam Pedeueng juga kini di perbincangkan baik itu di pemerintah Aceh maupun di penduduk Kampung, karena untuk melihat jalannya tugas dari MoU sudah ada beberapa yang terwujud akan tetapi ada beberapa lagi yang masih dalam proses. Dengan itu Bos Wir juga berpesan kepada pemerintah untuk melanjutkan kerjanya di bangku yang diduduki karena banyak masyarakat Aceh kita lihat belum begitu sejahtera.

“Kita tidak bisa berbuat apa-apa karena yang berwenang itu pemerintah pusat. Dengan begitu kita tunggu saja jalannya agenda tersebut dengan baik dan tanggung jawab,”punkasnya.

Setelah damai Aceh itu Bos Wir tidak masuk ke partai politik melainkan ia hanya mau bertani cabe sendiri di kebun miliknya. Ia tidak mau ikut campur terhadap hal politik tetapi ia mengambil jalan untuk berdagang saja yang penting baginya, ada penghasilan yang dipetik.

Kebun yang ditanami dengan tanaman cabe dan tomat terukur dengan luas 12 hektar sudah ditanamkan olehnya pohon uang yang beberapa bulan kedepan siap panen.

Di kebun itu ia menghabiskan waktu hari-harinya dengan tidak bermalas-malasan di warung kopi atau tempat wisata lain.

Pria ini pun mengingatkan kepada pemuda Aceh jangan malas-malas jaman sekarang. Ia juga mengatakan bahwa kawan-kawannya sekarang yang dulu mantan kombatan telah mampu kerja sendiri dengan tidak hanya duduk berpangku tangan dari orang.

Bos Wir juga berharap di hari Milad GAM 4 Desermber 2019 ini agar selalu terjalin silaturrahmi antara sesama mantan kombatan.

“Di hari milad itu kita tidak bertamasya dengan radikal dan separatis terhadap Aceh tapi kita di milad hanya reuni dan kumpul bersama untuk khanduri dan doa untuk para pejuang Aceh yang telah pulang ke Rahmatullah. Serta para mantan kombatan menjalin keakraban dengan ulama, masyarakat, pemerintah serta anak yatim di Aceh,”tutupnya. (Fauzan/Hz)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More