www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

BKSDA Aceh Kembali Datangkan Pawang dan Pasang Kamera Trap

0 778

Acehasia.com | Aceh Utara – Dalam menangani persoalan konflik Harimau Sumatera di Kabupaten Aceh Utara, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh kembali mendatangkan Tgk Syarwani Sabi yang diketahui sebagai Pawang dari Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat.

Kasi Konservasi Wilayah I Lhokseumawe BKSDA Aceh, Kamarudzaman, mengatakan selain mendatangkan Pawang pihaknya juga mendatangkan Tim Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP) untuk mendeteksi satwa dilindungi itu menggunakan pemasangan kamera trap.

“Pawang kita datangkan kembali, kali ini bersama Tim WCS, KSDA Aceh dan Resort KSDA 11 Aceh Utara. Jadi, tim hari ini sudah di lapangan. Kemungkinan sekalian untuk pemasangan kamera trap. Tim juga akan berkoordinasi dulu dengan masyarakat dan Muspika,” katanya, dikonfirmasi Acehasia.com, Kamis (12/12/2019).

Sebagaimana diketahui, belum lama ini Harimau Sumatera berkeliaran ke pemukiman warga di salah satu desa Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Selain mengancam kekhawatiran warga, satwa liar dilindungi itu telah memangsa lima sapi dan sebelas kambing milik warga.

turunnya Harimau Sumatera ke pemukiman warga, kata Kamarudzaman,  pihaknya menduga bisa jadi dikarenakan satwa dihutan seperti Rusa maupun Kijang yang selama ini menjadi mangsanya sudah berkurang seiring perburuan oleh manusia dan perambahan hutan. 

“Kemungkinan lainnya adalah, satwa mangsanya dihutan sudah jarang ditemukan karena efek perburuan liar dan rusaknya habitat Harimau akibat illegal logging. Semakin berkurangnya luas habitat Harimau, maka berimbas pada Harimau untuk keluar dari hutan,” sambungnya. 

Harimau keluar dari hutan, dikarenakan pada dasarnya secara teori dan fakta di lapangan bahwa satwa tersebut adalah tipe satwa yang soliter. Di mana mereka memiliki Homerange atau daya jelajah tertentu. Dalam hal ini diimbau kepada warga untuk agar selalu mewasapadai konflik Harimau. 

“Intinya untuk penanganan konflik ini tidak bisa dilakukan secara parsial, maka harus secara komprehensif dan melibatkan para pihak tentunya. Intinya kita melihat hasil di lapangan dulu, untuk kemudian akan komunikasikan kembali terkait penanganannya,” tandas Kamarudzaman. (Chairul/Hz)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More