www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Banjir Seolah Tak Ada Habisnya, Masyarakat Pasrah

0 462

Acehasia.com | Aceh Utara – Gambar di atas merupakan suasana banjir yang sempat menerjang Pusat Kota Ibukota Aceh Utara di Lhoksukon pada tahun 2017 lalu tepatnya pada 04 Desember 2017. Banjir tersebut terparah yang kedua kalinya setelah sempat terjadi diakhir tahun 2014 lalu.

Banjir seakan tak ada habisnya, bencana ini bahkan tak bisa lagi ditebak kapan dia akan datang. Bisa saja datang secara tiba-tiba setelah dataran tinggi pegunungan diguyur hujan lebat, tanpa ‘nego’ air bah datang seketika menggenangi dataran rendah.

Barangkali hanya langit mendung hitam pekat yang menjadi pedoman masyarakat sebagai tanda bahwa hujan lebat akan mengguyur dan berpotensi banjir. Bagi pemukiman yang datarannya tinggi, mungkin mereka bisa bebas, namun tidak berlaku bagi mereka yang bermukim di dataran rendah.

Seperti halnya Kecamatan Matangkuli dan Pirak Timu, dua kecamatan di Kabupaten Aceh Utara ini hingga di pertengahan 2020 masih menjadi langganan banjir. Seolah banjir tak sanggup untuk pergi meninggalkan kecamatan tersebut, ditambah lagi belum adanya tanggul di sepanjang DAS dua Kecamatan itu.

Muddin (46), salah satu warga yang rumahnya kerap tergenang banjir di Kecamatan Matangkuli, mengaku tak bisa berbuat banyak selain hanya bisa pasrah dan menyiapkan tenaga dalam menghadapi banjir yang menjadi rutinitas tiap tahunnya.

“Banjirnya selalu datang tiba-tiba setiap diguyur hujan lebat. Tak tanggung-tanggung, ketinggian banjir bisa mencapai hingga dua meter. Semua barang berharga turut tergenang, kami tak bisa berbuat apa-apa,” keluh Muddin, Rabu (20/05/2020).

Hal senada hampir diakui semua warga yang terdampak banjir, khususnya di Matangkuli dan Pirak Timu. Bahkan ada warga yang menyebut banjir tahun lalu setidaknya sudah terjadi 16 kali, debit air juga bervariasi tergantung daerah tempat tinggal, dataran rendah atau tinggi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara mencatat, banjir menjadi rutinitas setiap tahun apalagi disaat musim penghujan. Lokasi terparah banjir adalah Kecamatan Matangkuli dan Kecamatan Pirak Timu, ketinggian air bisa mencapai hingga 1,5 meter bahkan dua meter.

Kalaksa BPBD Aceh Utara, Amir Hamzah, mengatakan, hingga pertengahan 2020 ini banjir sudah terjadi beberapa kali namun yang terparah adalah banjir yang terjadi pada Senin (17/05/2020) malam. Bahkan, sempat menimbulkan dua titik pengungsian di lima Kecamatan.

“Memang ini banjir musiman, sering terjadi setiap tahun. Untuk tahun 2020, (banjir) ini yang terparah hingga menyebabkan 20 KK mengungsi di Desa Lawang Kecamatan Matangkuli, dan 30 jiwa mengungsi di Desa Buket Linteung Kecamatan Langkahan,” kata Amir Hamzah.

Masyarakat sangat berharap Pemerintah bisa segera menyelesaikan proyek pembangunan waduk raksasa di Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong yang pernah diresmikan Presiden RI Jokowi. Katanya, waduk dimaksud mampu meminimalisir banjir. (Chairul)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More