www.acehasia.com
Portal Berita Terpercaya dan Kredibel

Bakar Leumang, Tradisi Menyambut Bulan Puasa

0 441

Acehasia.com – Aceh Barat – Tok, tok, tok,  suara bambu dipotong seukuran setengah meter itu dibersihkan menggunakan sabun pencuci piring. Disisi lain terlihat seorang perempuan sedang membersihkan ketan putih lalu memeras kelapa untuk diambil patinya. Semua tampak sibuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk membakar Leumang.

Sudah menjadi tradisi saban tahun dalam menyambut bulan suci Ramadhan disetiap daerah di Aceh melakukan kegiatan membakar Leumang bambu khususnya di Meulaboh. Biasanya memasak kuliner khas ini dilakukan beberapa hari sebelum bulan Ramadhan tiba, tapi bukan tidak mungkin dibuat saat Ramadhan telah tiba.

Para penjual Leumang juga banyak terdapat saat menjelang buka puasa. Tak hanya Leumang, beberapa makanan khas lainnya yang ada saat bulan puasa juga banyak dijual seperti timu suri, bubur pedas (Ie Bu Peudah) dan lain sebagainya.

Seperti yang dilakukan Nila Wati (50), dibantu kerabat ia yang sedari tadi sibuk meracik menu andalan ini mengungkapkan bahwa, dirinya selalu melakukan tradisi turun temurun dari nenek moyangnya hingga saat ini.

“Kita cukup pakai beras ketan putih, santan kelapa, dan sejumput garam,” sebutnya sambil mengambil daun pisang dan bamboo sebagai alat pelengkap.

Tangan lihainya sibuk mencampur bahan lalu beras tersebut dimasukkan ke dalam daun pisang muda.

“Kita masukkan beras ketan putih ini kedalam bambu yang sudah dilapisi dalam lubangnya dengan daun pisang,” ucapnya kemudian memasukkan cairan pati santan kedalam bambu.

Bambu-bambu yang sudah diberi isi kemudian disusun dengan rapi pada pada perapian yang sebelumnya sudah disiapkan terlebih dahulu. Proses membakar tersebut menghabiskan waktu kurang lebih tiga jam. Tahap ppematangan yang lama ini karena bambu tidak terlalu dekat dengan api sehingga tidak hangus terbakar dan isi dalamnya bisa matang dengan sempurna.

Bambu-bambu yang berisi Leumang di dalamnya dibelah menggunakan parang atau pisau besar, lalu dipotong-potong dengan ukuran kecil atau sesuai keinginan. Biasanya Leumang disantap dengan tape ketan. Tak lupa si pembuat langsung membagikan kuliner ini kepada tetangga dan sanak saudara.

Bicara rasa, Lemang memiliki rasa seperi Bueleukat (ketan yang dimasak dan diaron) yang disajikan saat peusijuk di acara-acara tertentu, namun Leumang lebih lembut dan seluruh dagingnya seolah menempel erat satu sama lainnya semacam tekstur bubur yang dipadatkan, untuk mnambah kelezatan, Leumang cukup dicocol dengan tape beras ketan yang sudah difermentasi sebelumnya. Bayangkan saja, paduan rasa gurih dan manis beradu dalam satu suapan. (Len)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More